Dewasa ini aku
belajar, bahwa kesunyian sangatlah keras. Memekakkan, mungkin ayahku
menghabiskan seumur hidupnya untuk menghindari kesunyian.
Saat berada dikesunyian,
aku sulit untuk sadar dan tenang.
Dalam kesenyapan
dinihari, menempuh lampu yang lelap terlena. Dalam pelukan cahaya purnama,
dalam pertarungan hidup yang sengit.
Entah dititik mana
semua terlihat sempurna, di tempat mana hati hening dan menikmatinya.
Diujung jalan
mana semua akan terasa begitu sederhana, hari-hari yang sulit, malam-malam yang
rumit.
Aku berjalan
sendiri, tunduk akan takdir, aku menerima semuanya dengan senang hati, pasrah,
lelah, berusaha untuk tidak putus asa.
Aku manusia lemah, perjalanan yang jauh, tangisan yang sesak, dalam sunyi semuanya terdengar jelas.
Waktu yang cepat berlalu, semua terasa menua, berbeda dan berubah. Ya...
dunia tetap berlanjut, semesta terus menari, hari-hari akan berlalu seperti biasanya.
Hanya perasaan
dan kenangan yang tersisa, entah perasaan itu berubah atau kenangan itu masih
jelas teringat. Aku bingung, bimbang, sulit untuk menjadi dewasa yang bodo amat
untuk hari kedepan.
Semua mulai
memusingkan, mau ga mau, harus ga harus tetap dijalani, dilewati, dan
disyukuri.
Kamu tak selalu harus ada untuk orang lain, sesekali kamu perlu hadir untuk dirimu sendiri.
Ini jalanku,
harus aku lalui, harus aku jalani, semoga bahagia dan damai diriku.

Komentar
Posting Komentar