Langsung ke konten utama

Postingan

SEBUAH JEDA DARI WAKTU: Menghitung Amanah Usia dan Jejak Hikmah di Pertengahan Jalan

Di hari ini, di mana kalender mengulang kembali penanda lahirnya raga ini, hati seorang perasa seperti saya tidak hanya disergap kebahagiaan, melainkan oleh sebuah kontemplasi yang sunyi. Milad (ulang tahun) bukanlah sekadar perayaan ia adalah Piagam Audit Batin yang menuntut kita untuk berhenti sejenak, di tengah hiruk-pikuk hustle dan tuntutan akademis. Usia yang bertambah ini, dalam kacamata filosofis, bukanlah penambahan hak, melainkan penambahan Amanah. Amanah Waktu (Al-Waqt): Kita dihadapkan pada kenyataan pahit: waktu yang tersisa di dunia ini berkurang. Jika hidup adalah Safinatun Najah (Perahu Keselamatan), maka pertambahan usia adalah suara ombak yang mengingatkan kita untuk mengencangkan layar dan meluruskan niat. Setiap tahun yang berlalu adalah babak yang harus ditutup dengan husnul khatimah (penutup yang baik), bukan sekadar tumpukan kegagalan. Hikmah dalam Setiap Gagal dan Lelah: Perjalanan ini, sebagai perantau dan penuntut ilmu, telah mengajarkan saya bahwa hikmah seri...
Postingan terbaru

SUARA AYAH DI BALIK DIAM

  Jika kasih Ibu adalah nyanyian Tahajud yang membangunkan kita di sepertiga malam, maka kasih Ayah adalah pilar sunyi yang menopang seluruh atap rumah kita. Di Hari Ayah ini, saya kembali disergap oleh rasa rindu yang melankolis rindu pada kehangatan yang seringkali terbungkus dalam diam yang tebal. Bagi saya, Ayah bukan hanya figur, ia adalah filsafat hidup yang berjalan. 1. Pelajaran Ikhtiar dalam Keheningan: Dulu, kita sering berpikir Ayah hanya sibuk dengan pekerjaan. Kini, kita menyadari, Ayah sibuk melawan cemas di dunia yang tak pernah ia tunjukkan pada kita. Ia tidak menelpon untuk mengingatkan shalat sesering Ibu, tetapi setiap keringatnya, setiap keputusan sulitnya, adalah shalat ikhtiar yang tak terucapkan. Ayah mengajarkan kita tentang Tawakal yang sejati: bukan hanya berserah setelah berdoa, tetapi bekerja keras hingga peluh menjadi doa, tanpa perlu pengakuan. Ia adalah Qana'ah (rasa cukup) yang hidup, rela mengurangi jatahnya sendiri demi memastikan segala kebutuhan ...

SAMUDRA YANG BICARA: Menggugat Mitos Columbus dan Jejak Moor di Benua yang Terlupakan

  Kita diajarkan bahwa Christopher Columbus adalah sang penemu. Padahal, fakta sejarah dan temuan ilmiah (yang mestinya menjadi hujjah kita sebagai kaum terpelajar) menunjukkan hal yang berbeda: Columbus, hanya sampai di Karibia, dan perjalanannya pun difasilitasi oleh peta dan ilmu navigasi yang sebagian besar diwarisi dari peradaban yang baru saja ia hancurkan di Andalusia. Tragedi Penemuan yang Tersembunyi: Kebenaran yang sunyi berbisik: Jejak kaki pertama di benua itu telah lebih dahulu diukir oleh para pelaut Moor (Muslim dari Maroko dan Spanyol) dan suku Beybers (Afrika Barat). Jauh sebelum 1492, mereka sudah melintasi Samudra Atlantik. Mengapa narasi ini penting bagi kita? Gugatan Terhadap Monopoli Sejarah: Klaim Columbus sebagai 'penemu' adalah monopoli narasi Barat yang bertujuan menghapus kontribusi peradaban lain, terutama Islam. Penemuan oleh Moor dan Beybers membuktikan bahwa keterbukaan, ilmu astronomi, dan navigasi sudah menjadi kekuatan umat Islam yang diilhami ...

Kontemplasi Filosofis atas Kitab Safinatun Najah

  Saya seringkali merindukan kesederhanaan mendalam dari kitab-kitab dasar. Di antara semua literatur, Safinatun Najah (Perahu Keselamatan) yang tipis itu, justru menyimpan bobot makna yang seolah tak terhingga. Ia bukan hanya manual fiqih Mazhab Syafi'i, ia adalah Piagam Ta'abbud (peribadatan) yang mengikat jiwa. Kitab ini, yang disusun oleh ulama besar dari Yaman, Syekh Salim bin Sumair al-Hadhrami, adalah janji puitis: ia adalah perahu yang akan menyelamatkan kita dari gelombang ghurur (tipu daya dunia) dan al-jahl (kebodohan dalam beribadah). Ia adalah tempat berlabuh yang tenang bagi hati yang gelisah di tengah quarter life crisis modern. Mengurai Filosofi Rukun sebagai Perjalanan Batin: Taharah (Bersuci): Fondasi Kesadaran Diri Fasal-fasal Safinah diawali dengan Taharah syarat air, wudhu, dan mandi wajib. Ini bukan sekadar aturan kebersihan fisik. Ini adalah Pelatihan Eksistensial yang pertama. Kitab ini mengajarkan bahwa sebelum kita berdialog dengan Tuhan (shalat), kita...

Narasi Personal: Rekonstruksi Ilmiah Sumpah Pemuda

Lusa lalu saya sempat berbincang dengan salah satu  mantan rektor perempuan pertama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis M.A. terkait kondisi Islam, dakwah global, dan juga membahas hari-hari bersejarah dalam bulan ini, salah satunya yaitu sumpah pemuda. Hasil dari pembicaraan itu , saya menyadari satu hal fundamental, Sumpah Pemuda (1928) adalah hipotesis sosial yang kini menuntut verifikasi ilmiah di era digital. Ikrar satu nusa, satu bangsa, satu bahasa adalah landasan, tetapi implementasinya butuh transformasi nilai yang terstruktur. Di tengah dominasi Gen Z, tantangan kita bukan lagi melawan penjajah fisik, melainkan melawan Disrupsi Identitas dan Ancaman Disintegrasi Digital. Fenomena cancel culture, bully massal, dan hoax adalah wujud nyata dari kegagalan literasi etika di ruang publik. Tiga Butir Sumpah dalam Konteks Analisis Digital: Satu Tanah Air (Tanah Air Spiritual): Secara filosofis, kita harus mendefinisikan tanah air tidak hanya...

Semua sudah tertulis Menawarlah Lewat Do'a

  Dalam setiap helaan napas perjuangan di perantauan, seringkali kita diuji dengan satu musuh batin yang paling berbahaya: Keputusasaan (al-ya's). Di sinilah, kisah klasik tentang Nabi Musa AS dan seorang hamba Allah yang mendamba keturunan, mengajarkan kita sebuah epos keimanan yang tak lekang oleh waktu. Dikisahkan, hamba Allah (sering disebut sebagai seorang nenek atau wanita tua) ini tak pernah lelah memohon anak. Bertahun-tahun, puluhan tahun, ia mengetuk pintu langit dengan doa yang sama. Hingga akhirnya, ia meminta Musa seorang Kalimullah (yang berbicara langsung dengan Allah) untuk menanyakan: "Kapankah Allah akan mengabulkan permohonanku?" Nabi Musa pun bertanya kepada-Nya. Dan jawaban Tuhan, yang disampaikan kembali kepada hamba itu, sungguh menusuk: "Aku telah menuliskan takdir bahwa ia tidak akan memiliki anak." Seorang yang perasa akan membayangkan betapa remuknya hati hamba itu mendengar vonis takdir yang seolah final. Namun, di sinilah keajaiban i...

HUJAN, OVERTHINKING, DAN PLOT TWIST USIA 20-AN

Ketika Hati Butuh Healing, Bukan Hustle Ujian dan deadline periode ahkir tahun ini nggak cuma musim hujan. Ini adalah Musim Insecurity Nasional. Apalagi kalau lagi hujan, bawaannya langsung flashback ke masa kecil. Cemasnya Ibu soal kehujanan kini berevolusi menjadi Kecemasan berlebihan (Adult Anxiety). Rasanya seperti: kalau kena hujan fisik bisa demam, kalau kena hujan ekspektasi di medsos bisa langsung mental breakdown. Fenomena Quarter Life Crisis (QLC) yang hits banget di usia 20 an ini, bagi saya, adalah Krisis Filter. Ini Bukan Cuma Soal Nggak Punya Duit😂 Dosen filsafat akan bilang: ini adalah momen ketika Ilusi Timeline Sempurna yang kita lihat di Instagram (sudah S2, sudah nikah, sudah keliling Eropa) tiba-tiba pecah dan nggak relate sama timeline kita yang masih penuh tanda tanya. Mari Bedah QLC dari Sudut Pandang Cinta dan Meaning: THE FOMO IS REAL, BUT THE JOMO IS BETTER: QLC ini dipicu oleh Fear of Missing Out. Kita takut tertinggal. Padahal, wisdom yang saya dapat dari k...