Dalam setiap helaan napas perjuangan di perantauan, seringkali kita diuji dengan satu musuh batin yang paling berbahaya: Keputusasaan (al-ya's). Di sinilah, kisah klasik tentang Nabi Musa AS dan seorang hamba Allah yang mendamba keturunan, mengajarkan kita sebuah epos keimanan yang tak lekang oleh waktu.
Dikisahkan, hamba Allah (sering disebut sebagai seorang nenek atau wanita tua) ini tak pernah lelah memohon anak. Bertahun-tahun, puluhan tahun, ia mengetuk pintu langit dengan doa yang sama. Hingga akhirnya, ia meminta Musa seorang Kalimullah (yang berbicara langsung dengan Allah) untuk menanyakan: "Kapankah Allah akan mengabulkan permohonanku?"
Nabi Musa pun bertanya kepada-Nya. Dan jawaban Tuhan, yang disampaikan kembali kepada hamba itu, sungguh menusuk: "Aku telah menuliskan takdir bahwa ia tidak akan memiliki anak."
Seorang yang perasa akan membayangkan betapa remuknya hati hamba itu mendengar vonis takdir yang seolah final. Namun, di sinilah keajaiban itu bermula. Hamba itu tidak berhenti. Ia tetap melanjutkan doa dan memohon seperti hari-hari sebelumnya.
Beberapa waktu kemudian, ia benar-benar dikaruniai seorang anak. Terheran, Musa kembali bertanya kepada Tuhannya: "Ya Rabbi, bukankah Engkau telah menuliskan ia tidak akan punya anak?"
Jawabannya adalah inti dari seluruh filosofi Tawakkal dan Raja' (harapan) dalam Islam:
"Wahai Musa, Aku telah menetapkan bahwa ia tidak akan punya anak. Tetapi karena ia terus menerus memanggil-Ku dengan Ya Rabbi! Ya Rabbi!, Aku malu kepada hamba-Ku itu. Aku malu melihat ia terus berharap pada-Ku, sementara Aku adalah Tuhan yang Maha Mampu. Maka Aku ubah takdirnya."
Pelajaran Filosofis dari Kisah Ini:
Doa Melawan Vonis: Kisah ini mengajarkan bahwa Qada' (ketentuan) itu tidaklah statis. Ia bisa diubah oleh kegigihan doa dan hati yang menolak keputusasaan. Doa bukan sekadar meminta, tapi sebuah seni perlawanan batin terhadap segala ketetapan yang menyakitkan.
Keutamaan Raja': Tuhan malu. Ini adalah personifikasi paling puitis dari kasih sayang tak terbatas. Tuhan menghargai dan membalas hamba yang memiliki harapan yang tulus, bahkan di saat segala logika dan takdir seolah menutup pintu.
Filosofi Usaha dan Kesabaran: Hamba itu tidak hanya sekali mencoba, tetapi terus-menerus. Doa adalah ikhtiar tertinggi yang menyertai usaha fisik. Ia mengajarkan kita bahwa takdir seringkali menunggu kita untuk mencapai titik puncak kesabaran dan keikhlasan.
Kepada hati-hati yang sedang terimpit masalah, kepada jiwa-jiwa yang merasa doanya belum terjawab: Ingatlah kisah ini. Jangan biarkan Al-Ya's menang. Teruslah mengetuk pintu itu, sebab di baliknya, ada Tuhan yang Malu jika hamba-Nya berhenti berharap.

Komentar
Posting Komentar