Langsung ke konten utama

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

Semua sudah tertulis Menawarlah Lewat Do'a

 


Dalam setiap helaan napas perjuangan di perantauan, seringkali kita diuji dengan satu musuh batin yang paling berbahaya: Keputusasaan (al-ya's). Di sinilah, kisah klasik tentang Nabi Musa AS dan seorang hamba Allah yang mendamba keturunan, mengajarkan kita sebuah epos keimanan yang tak lekang oleh waktu.

Dikisahkan, hamba Allah (sering disebut sebagai seorang nenek atau wanita tua) ini tak pernah lelah memohon anak. Bertahun-tahun, puluhan tahun, ia mengetuk pintu langit dengan doa yang sama. Hingga akhirnya, ia meminta Musa seorang Kalimullah (yang berbicara langsung dengan Allah) untuk menanyakan: "Kapankah Allah akan mengabulkan permohonanku?"

Nabi Musa pun bertanya kepada-Nya. Dan jawaban Tuhan, yang disampaikan kembali kepada hamba itu, sungguh menusuk: "Aku telah menuliskan takdir bahwa ia tidak akan memiliki anak."

Seorang yang perasa akan membayangkan betapa remuknya hati hamba itu mendengar vonis takdir yang seolah final. Namun, di sinilah keajaiban itu bermula. Hamba itu tidak berhenti. Ia tetap melanjutkan doa dan memohon seperti hari-hari sebelumnya.

Beberapa waktu kemudian, ia benar-benar dikaruniai seorang anak. Terheran, Musa kembali bertanya kepada Tuhannya: "Ya Rabbi, bukankah Engkau telah menuliskan ia tidak akan punya anak?"

Jawabannya adalah inti dari seluruh filosofi Tawakkal dan Raja' (harapan) dalam Islam:

"Wahai Musa, Aku telah menetapkan bahwa ia tidak akan punya anak. Tetapi karena ia terus menerus memanggil-Ku dengan Ya Rabbi! Ya Rabbi!, Aku malu kepada hamba-Ku itu. Aku malu melihat ia terus berharap pada-Ku, sementara Aku adalah Tuhan yang Maha Mampu. Maka Aku ubah takdirnya."

 

Pelajaran Filosofis dari Kisah Ini:

Doa Melawan Vonis: Kisah ini mengajarkan bahwa Qada' (ketentuan) itu tidaklah statis. Ia bisa diubah oleh kegigihan doa dan hati yang menolak keputusasaan. Doa bukan sekadar meminta, tapi sebuah seni perlawanan batin terhadap segala ketetapan yang menyakitkan.

Keutamaan Raja': Tuhan malu. Ini adalah personifikasi paling puitis dari kasih sayang tak terbatas. Tuhan menghargai dan membalas hamba yang memiliki harapan  yang tulus, bahkan di saat segala logika dan takdir seolah menutup pintu.

Filosofi Usaha dan Kesabaran: Hamba itu tidak hanya sekali mencoba, tetapi terus-menerus. Doa adalah ikhtiar tertinggi yang menyertai usaha fisik. Ia mengajarkan kita bahwa takdir seringkali menunggu kita untuk mencapai titik puncak kesabaran dan keikhlasan.

Kepada hati-hati yang sedang terimpit masalah, kepada jiwa-jiwa yang merasa doanya belum terjawab: Ingatlah kisah ini. Jangan biarkan Al-Ya's menang. Teruslah mengetuk pintu itu, sebab di baliknya, ada Tuhan yang Malu jika hamba-Nya berhenti berharap.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadtember

  aku merayu tubuhku  agar patuh segera pulang kepada doa - doa panjang  aku merayu tuhan untuk tetap mengelus tulang - belulangku hingga patah sampai kembali ke tanah.  doa tengah malam jangan menjauh meski bohong bolong ompong tak ada yang lebih sialan dari hiruk - pikuk dunia selain hilangnya doa - doa dan keyakinan yang kabur entah ke mana. tubuh tabah menengadah untuk teriakan paling sunyi  aku menjadi rimpuh dan mandi air tubuhku  soal segala rimpang yang tak rampung - rampung hening membuat malam semakin basah tumpah ruah riuh  oleh doa - doa yang sakit yang tak bisa lebih panjang dari isak sudah  telan sajalah !  dunia sudah sialan ingin mengumpat tetapi takut doa ditolak. Rasanya seperti ingin menyerah saja.

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

Siapa Aku ?

Nama ku Wildan Salsabila Lubis . lahir 25 November tahunnya aku lupa . membaca dan menulis hal yang sudah kugemari dari kecil. Buku-buku sejarah dan ilmu pengetahuan di rumah sering kali aku menjumpainya,melihat sampulnya yang menarik,mencoba menarik diriku kedalam tulisan-tulisan sejarah,agama,dan filsafat . Blog ini kutulis juga keluh kesahku, aku menulis apa yang aku baca,apa yang dirasa, apa saja yang ingin aku tulis. Menurutku aku introvert, aku sangat lelah jika dikeramaian,makanya menghadiri pernikahan merupakan sesuatu yang jarang aku lakukan, bersosial secukupnya,berteman juga tidak terlalu banyak. Tidak menyukai keramaian,tapi benci kesepian .  . Bukannya aku anti sosial ya, lebih memilih dan menelaah setiap kepala orang baru yang aku jumpai . aku fresh graduate uin syarif hidayatullah jakarta.  itu saja lain kali aku menulis diriku lebih panjang .