Langsung ke konten utama

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

Narasi Personal: Rekonstruksi Ilmiah Sumpah Pemuda



Lusa lalu saya sempat berbincang dengan salah satu  mantan rektor perempuan pertama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis M.A. terkait kondisi Islam, dakwah global, dan juga membahas hari-hari bersejarah dalam bulan ini, salah satunya yaitu sumpah pemuda.

Hasil dari pembicaraan itu , saya menyadari satu hal fundamental, Sumpah Pemuda (1928) adalah hipotesis sosial yang kini menuntut verifikasi ilmiah di era digital. Ikrar satu nusa, satu bangsa, satu bahasa adalah landasan, tetapi implementasinya butuh transformasi nilai yang terstruktur.

Di tengah dominasi Gen Z, tantangan kita bukan lagi melawan penjajah fisik, melainkan melawan Disrupsi Identitas dan Ancaman Disintegrasi Digital. Fenomena cancel culture, bully massal, dan hoax adalah wujud nyata dari kegagalan literasi etika di ruang publik.

Tiga Butir Sumpah dalam Konteks Analisis Digital:

Satu Tanah Air (Tanah Air Spiritual):

Secara filosofis, kita harus mendefinisikan tanah air tidak hanya secara geografis, tetapi juga sebagai Ruang Batin Kolektif. Pelanggaran digital yang kita lakukan (misalnya, ujaran kebencian) adalah bentuk vandalisme kognitif yang merusak ketenangan batin kolektif bangsa. Sumpah ini menuntut tanggung jawab personal atas output digital kita.

Satu Bangsa (Aksi Kolektif dan Empati):

Ikrar satu bangsa menuntut kolaborasi strategis. Dalam kajian ilmu sosial, kolaborasi ini hanya efektif jika didasari empati lintas sektoral (ibaan terhadap sesama). Kita harus menggunakan skill dan platform kita (sebagai content creator, developer, aktivis) untuk memperkuat persatuan, bukan menjadikannya komoditas perpecahan. Ini adalah bukti nyata integritas seorang pemuda terpelajar.

Satu Bahasa (Literasi dan Tabayyun):

Sumpah satu bahasa di era ini berarti komitmen terhadap akuntabilitas informasi. Bahasa persatuan harus menjadi alat tabayyun (klarifikasi) dan jembatan dialog rasional. Kita menolak narasi clickbait yang menyesatkan. Sebagai generasi akademik, tugas kita adalah menjadi benteng nalar yang menjaga agar logika publik tidak diombang-ambingkan oleh emosi viral.

Kesimpulan untuk Indonesia Emas 2045:

Visi Indonesia Emas 2045 yang diukur dari kualitas SDM hanya akan tercapai jika kompetensi akademik (Logika) didukung oleh kompetensi spiritual (Batin). Sumpah Pemuda adalah blueprint yang menggariskan. Persatuan Batin adalah prasyarat bagi Kemajuan Peradaban.

Mari kita jadikan Hustle kita sebagai wujud Ikhtiar yang berlandaskan Sumpah, bukan sekadar ambisi personal.

#TransformasiNilai #LiterasiEtika #SumpahPemuda #GenZAkademis #IndonesiaEmas2045

Komentar