Langsung ke konten utama

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

HUJAN, OVERTHINKING, DAN PLOT TWIST USIA 20-AN



Ketika Hati Butuh Healing, Bukan Hustle

Ujian dan deadline periode ahkir tahun ini nggak cuma musim hujan. Ini adalah Musim Insecurity Nasional.

Apalagi kalau lagi hujan, bawaannya langsung flashback ke masa kecil. Cemasnya Ibu soal kehujanan kini berevolusi menjadi Kecemasan berlebihan (Adult Anxiety). Rasanya seperti: kalau kena hujan fisik bisa demam, kalau kena hujan ekspektasi di medsos bisa langsung mental breakdown.

Fenomena Quarter Life Crisis (QLC) yang hits banget di usia 20 an ini, bagi saya, adalah Krisis Filter.

Ini Bukan Cuma Soal Nggak Punya Duit😂

Dosen filsafat akan bilang: ini adalah momen ketika Ilusi Timeline Sempurna yang kita lihat di Instagram (sudah S2, sudah nikah, sudah keliling Eropa) tiba-tiba pecah dan nggak relate sama timeline kita yang masih penuh tanda tanya.

Mari Bedah QLC dari Sudut Pandang Cinta dan Meaning:

THE FOMO IS REAL, BUT THE JOMO IS BETTER: QLC ini dipicu oleh Fear of Missing Out. Kita takut tertinggal. Padahal, wisdom yang saya dapat dari kajian spiritual:

 semua orang punya rezeki dan waktunya sendiri. Tugas kita adalah fokus pada JOMO (Joy of Missing Out) menemukan kedmaian dan makna di jalur kita, bukan di jalur orang lain.

OVERTHINKING vs. TAWAKAL: Semua overthinking yang bikin kita begadang (memikirkan Tesis, karir, jodoh) adalah wujud dari self-doubt yang kronis. Dalam Bahasa PAI, itu berarti hilangnya Tawakal.


Logika kita terlalu sibuk mencoba mengontrol masa depan yang sebenarnya ghaib. Kita lupa, langkah terbaik untuk meredakan cemas adalah ikhtiar hari ini, lalu menyerahkan hasilnya.

Hujan, Healing, dan Reset: Kalau di game, QLC adalah fase Boss Battle yang harus kita lewati untuk naik level kedewasaan. Hujan akhir tahun ini, harusnya kita manfaatkan sebagai momen spiritual healing. Berani disconnect dari smartphone, berani jujur pada diri sendiri, dan berani mendengarkan hati yang butuh istirahat.

Pesan Penutup (Supaya Nggak Insecure):

Kepada teman-teman seperjuangan yang juga lagi struggle dan sering merasa "Kenapa aku belum tahu mau ke mana?" tenang. Jadilah Progress, bukan Perfection. Hiduplah sesuai pace diri sendiri. Ingat, keberkahan itu lebih mahal dari viral.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadtember

  aku merayu tubuhku  agar patuh segera pulang kepada doa - doa panjang  aku merayu tuhan untuk tetap mengelus tulang - belulangku hingga patah sampai kembali ke tanah.  doa tengah malam jangan menjauh meski bohong bolong ompong tak ada yang lebih sialan dari hiruk - pikuk dunia selain hilangnya doa - doa dan keyakinan yang kabur entah ke mana. tubuh tabah menengadah untuk teriakan paling sunyi  aku menjadi rimpuh dan mandi air tubuhku  soal segala rimpang yang tak rampung - rampung hening membuat malam semakin basah tumpah ruah riuh  oleh doa - doa yang sakit yang tak bisa lebih panjang dari isak sudah  telan sajalah !  dunia sudah sialan ingin mengumpat tetapi takut doa ditolak. Rasanya seperti ingin menyerah saja.

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

Siapa Aku ?

Nama ku Wildan Salsabila Lubis . lahir 25 November tahunnya aku lupa . membaca dan menulis hal yang sudah kugemari dari kecil. Buku-buku sejarah dan ilmu pengetahuan di rumah sering kali aku menjumpainya,melihat sampulnya yang menarik,mencoba menarik diriku kedalam tulisan-tulisan sejarah,agama,dan filsafat . Blog ini kutulis juga keluh kesahku, aku menulis apa yang aku baca,apa yang dirasa, apa saja yang ingin aku tulis. Menurutku aku introvert, aku sangat lelah jika dikeramaian,makanya menghadiri pernikahan merupakan sesuatu yang jarang aku lakukan, bersosial secukupnya,berteman juga tidak terlalu banyak. Tidak menyukai keramaian,tapi benci kesepian .  . Bukannya aku anti sosial ya, lebih memilih dan menelaah setiap kepala orang baru yang aku jumpai . aku fresh graduate uin syarif hidayatullah jakarta.  itu saja lain kali aku menulis diriku lebih panjang .