Langsung ke konten utama

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

SEBUAH REFLEKSI PADA SABTU PAGI





Ketika Rintik Air Mata Guru Jatuh di Ranah Digital


Sebagai seorang perantau, seorang pendidik dengan enam tahun pengalaman, dan kini tengah mendalami Magister Pendidikan Islam, hati saya sungguh teriris melihat fenomena guru yang terus menjadi "santapan" viral di media sosial.

Kita melihatnya satu per satu: guru yang dilaporkan karena menegakkan disiplin, guru yang terjerat kasus pelecehan, hingga keputusan mengeluarkan siswa yang membuat gaduh. Semua ini, dengan kecepatan kilat, berpindah dari ruang kelas yang hening ke ruang digital yang riuh.

Bagi saya, ini bukan sekadar berita, tapi sebuah Tragedi Keteladanan.

Tindakan-tindakan kontroversial itu hanyalah puncak dari Gunung Es masalah yang jauh lebih dalam, yang dingin, dan sunyi. Sebagai seorang yang perasa dan terbiasa merenung, saya melihat:

Kelelahan Batin Pendidik: Sebagian besar guru berjuang di bawah tekanan sistem, beban administrasi, dan ekspektasi masyarakat yang selangit. Ketika empati dan kesabaran terkikis habis, emosi spontan yang tak terkontrol yang seharusnya diselesaikan di balik pintu justru terlempar ke publik dan menjadi tontonan sensasional.

Hilangnya 'Adab' Kemitraan: Dalam kajian pendidikan Islam, adab antara murid, guru, dan orang tua adalah fondasi. Sekarang, hubungan itu seolah berubah menjadi kontrak transaksional yang dingin, di mana sedikit saja gesekan berujung pada ancaman pasal-pasal hukum. Di mana letak musyawarah dan husnuzan (prasangka baik) yang dulu menjadi pilar budaya timur kita?

Hukum di Atas Hati Nurani: Kita telah menciptakan sistem yang melindungi (dan itu bagus), tetapi terkadang, sistem itu lupa memberikan ruang bernapas bagi hati seorang guru yang tulus. Jika setiap tindakan disiplin berisiko memindahkan guru dari kelas ke kantor polisi, maka kita memaksa guru untuk memilih jalur aman: mengajar tanpa mendidik.

Saya sungguh berharap, sebelum kita buru-buru menghakimi sang guru yang viral, kita menarik napas panjang. Mari kita perlakukan profesi mulia ini dengan kacamata ilmiah dan hati yang penuh kasih, bukan dengan jempol yang terburu-buru.

Mari kita kembalikan kehormatan ruang kelas. Mari kita rajut kembali adab antara sekolah dan rumah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadtember

  aku merayu tubuhku  agar patuh segera pulang kepada doa - doa panjang  aku merayu tuhan untuk tetap mengelus tulang - belulangku hingga patah sampai kembali ke tanah.  doa tengah malam jangan menjauh meski bohong bolong ompong tak ada yang lebih sialan dari hiruk - pikuk dunia selain hilangnya doa - doa dan keyakinan yang kabur entah ke mana. tubuh tabah menengadah untuk teriakan paling sunyi  aku menjadi rimpuh dan mandi air tubuhku  soal segala rimpang yang tak rampung - rampung hening membuat malam semakin basah tumpah ruah riuh  oleh doa - doa yang sakit yang tak bisa lebih panjang dari isak sudah  telan sajalah !  dunia sudah sialan ingin mengumpat tetapi takut doa ditolak. Rasanya seperti ingin menyerah saja.

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

Siapa Aku ?

Nama ku Wildan Salsabila Lubis . lahir 25 November tahunnya aku lupa . membaca dan menulis hal yang sudah kugemari dari kecil. Buku-buku sejarah dan ilmu pengetahuan di rumah sering kali aku menjumpainya,melihat sampulnya yang menarik,mencoba menarik diriku kedalam tulisan-tulisan sejarah,agama,dan filsafat . Blog ini kutulis juga keluh kesahku, aku menulis apa yang aku baca,apa yang dirasa, apa saja yang ingin aku tulis. Menurutku aku introvert, aku sangat lelah jika dikeramaian,makanya menghadiri pernikahan merupakan sesuatu yang jarang aku lakukan, bersosial secukupnya,berteman juga tidak terlalu banyak. Tidak menyukai keramaian,tapi benci kesepian .  . Bukannya aku anti sosial ya, lebih memilih dan menelaah setiap kepala orang baru yang aku jumpai . aku fresh graduate uin syarif hidayatullah jakarta.  itu saja lain kali aku menulis diriku lebih panjang .