Ketika Rintik Air Mata Guru Jatuh di Ranah Digital
Sebagai seorang perantau, seorang pendidik dengan enam tahun pengalaman, dan kini tengah mendalami Magister Pendidikan Islam, hati saya sungguh teriris melihat fenomena guru yang terus menjadi "santapan" viral di media sosial.
Kita melihatnya satu per satu: guru yang dilaporkan karena menegakkan disiplin, guru yang terjerat kasus pelecehan, hingga keputusan mengeluarkan siswa yang membuat gaduh. Semua ini, dengan kecepatan kilat, berpindah dari ruang kelas yang hening ke ruang digital yang riuh.
Bagi saya, ini bukan sekadar berita, tapi sebuah Tragedi Keteladanan.
Tindakan-tindakan kontroversial itu hanyalah puncak dari Gunung Es masalah yang jauh lebih dalam, yang dingin, dan sunyi. Sebagai seorang yang perasa dan terbiasa merenung, saya melihat:
Kelelahan Batin Pendidik: Sebagian besar guru berjuang di bawah tekanan sistem, beban administrasi, dan ekspektasi masyarakat yang selangit. Ketika empati dan kesabaran terkikis habis, emosi spontan yang tak terkontrol yang seharusnya diselesaikan di balik pintu justru terlempar ke publik dan menjadi tontonan sensasional.
Hilangnya 'Adab' Kemitraan: Dalam kajian pendidikan Islam, adab antara murid, guru, dan orang tua adalah fondasi. Sekarang, hubungan itu seolah berubah menjadi kontrak transaksional yang dingin, di mana sedikit saja gesekan berujung pada ancaman pasal-pasal hukum. Di mana letak musyawarah dan husnuzan (prasangka baik) yang dulu menjadi pilar budaya timur kita?
Hukum di Atas Hati Nurani: Kita telah menciptakan sistem yang melindungi (dan itu bagus), tetapi terkadang, sistem itu lupa memberikan ruang bernapas bagi hati seorang guru yang tulus. Jika setiap tindakan disiplin berisiko memindahkan guru dari kelas ke kantor polisi, maka kita memaksa guru untuk memilih jalur aman: mengajar tanpa mendidik.
Saya sungguh berharap, sebelum kita buru-buru menghakimi sang guru yang viral, kita menarik napas panjang. Mari kita perlakukan profesi mulia ini dengan kacamata ilmiah dan hati yang penuh kasih, bukan dengan jempol yang terburu-buru.
Mari kita kembalikan kehormatan ruang kelas. Mari kita rajut kembali adab antara sekolah dan rumah.

Komentar
Posting Komentar