Langsung ke konten utama

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

SUARA JIWA DI TENGAH RIUH KEGELISAHAN

 



Mengurai Benang Kusut Kesehatan Mental dari Sudut Pandang Batin dan Filsafat



Saya seringkali merenungkan betapa rapuhnya dinding antara "baik-baik saja" dan "tidak baik-baik saja" dalam diri manusia.

Dunia modern, dengan segala kecepatan dan tuntutannya, seringkali memaksa kita untuk mengenakan topeng. Kita dituntut untuk selalu "kuat," "sukses," dan "bahagia" sebuah tirani positivisme yang melenakan.


Padahal, di balik senyum paling cerah, tak jarang ada jiwa yang menjerit dalam sunyi, terperangkap dalam labirin kegelisahan, kecemasan, atau depresi. Inilah yang kita sebut sebagai kesehatan mental.

Dari kacamata filsafat, terutama yang terinspirasi oleh tradisi Islam dan pemikiran Timur, saya melihat bahwa fenomena ini bukanlah sekadar gangguan klinis, melainkan krisis eksistensial yang mendalam.

 * Fragmentasi Diri (Jiwa yang Terpecah):

   Filosof-filosof kuno, seperti Plato atau Al-Ghazali, sering berbicara tentang keutuhan jiwa. Namun, di era digital ini, diri kita seolah terpecah-pecah: ada diri di dunia nyata, diri di media sosial (yang seringkali palsu), dan diri yang terabaikan di relung batin. Kita terasing dari diri sejati kita. Konflik batin ini, antara apa yang kita inginkan (nafsu), apa yang kita pikirkan (akal), dan apa yang dirasakan (hati), adalah akar kegelisahan yang tak terucap.

 * Hilangnya Makna (Void in the Soul):

   Dalam pencarian saya sebagai Magister PAI, saya memahami bahwa manusia secara fitrah selalu mencari makna (quest for meaning). Namun, ketika hidup hanya berputar pada materi, status, atau validasi digital, makna sejati itu seringkali lenyap. Kosonglah batin kita. Kekosongan inilah yang sering diisi oleh kecemasan yang tak berujung, seolah ada lubang hitam di dalam jiwa yang tak bisa diisi oleh apapun dari luar.

 * Tirani Waktu dan Kecepatan (The Modern Prison):

   Filsuf Jerman, Martin Heidegger, berbicara tentang "keterlemparan" (Geworfenheit) manusia ke dalam dunia. Kini, kita tidak hanya terlempar, tetapi juga terburu-buru. Kita tak punya waktu untuk merenung, bermuhasabah, atau bahkan sekadar bernapas. Hidup menjadi rentetan deadline dan notifikasi. Bagaimana jiwa bisa damai jika ia terus-menerus dikejar oleh "masa depan" yang tak pernah tiba dan "kesempurnaan" yang mustahil digapai?

Maka, apakah solusinya?

Bagi saya, jawaban awal terletak pada kembali ke Diri Sejati, mendengarkan Suara Jiwa yang selama ini teredam oleh bisingnya dunia. Ini adalah jihad batin yang paling mendasar:

 * Mencari Kedamaian Internal: Bukan dari luar, tapi dari dalam. Melalui ibadah, zikir, meditasi, atau sekadar menikmati sunyi. Ini adalah "retret spiritual" yang sangat dibutuhkan jiwa.

 * Merajut Ulang Makna Hidup: Mengingat kembali tujuan eksistensi kita di dunia ini, bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari semesta yang lebih besar, sebagai khalifatullah fil ardh.

 * Berani Menjadi Rentan: Mengizinkan diri untuk tidak selalu "baik-baik saja," berbicara tentang luka batin, mencari bantuan, dan memahami bahwa kerentanan adalah bagian dari kemanusiaan kita.

Kesehatan mental, pada akhirnya, bukan sekadar bebas dari penyakit, melainkan sebuah perjalanan filosofis dan spiritual untuk mencapai keutuhan jiwa di tengah dunia yang terus bergejolak. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menapaki jalan itu.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadtember

  aku merayu tubuhku  agar patuh segera pulang kepada doa - doa panjang  aku merayu tuhan untuk tetap mengelus tulang - belulangku hingga patah sampai kembali ke tanah.  doa tengah malam jangan menjauh meski bohong bolong ompong tak ada yang lebih sialan dari hiruk - pikuk dunia selain hilangnya doa - doa dan keyakinan yang kabur entah ke mana. tubuh tabah menengadah untuk teriakan paling sunyi  aku menjadi rimpuh dan mandi air tubuhku  soal segala rimpang yang tak rampung - rampung hening membuat malam semakin basah tumpah ruah riuh  oleh doa - doa yang sakit yang tak bisa lebih panjang dari isak sudah  telan sajalah !  dunia sudah sialan ingin mengumpat tetapi takut doa ditolak. Rasanya seperti ingin menyerah saja.

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

Siapa Aku ?

Nama ku Wildan Salsabila Lubis . lahir 25 November tahunnya aku lupa . membaca dan menulis hal yang sudah kugemari dari kecil. Buku-buku sejarah dan ilmu pengetahuan di rumah sering kali aku menjumpainya,melihat sampulnya yang menarik,mencoba menarik diriku kedalam tulisan-tulisan sejarah,agama,dan filsafat . Blog ini kutulis juga keluh kesahku, aku menulis apa yang aku baca,apa yang dirasa, apa saja yang ingin aku tulis. Menurutku aku introvert, aku sangat lelah jika dikeramaian,makanya menghadiri pernikahan merupakan sesuatu yang jarang aku lakukan, bersosial secukupnya,berteman juga tidak terlalu banyak. Tidak menyukai keramaian,tapi benci kesepian .  . Bukannya aku anti sosial ya, lebih memilih dan menelaah setiap kepala orang baru yang aku jumpai . aku fresh graduate uin syarif hidayatullah jakarta.  itu saja lain kali aku menulis diriku lebih panjang .