Langsung ke konten utama

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

Perkuliahan Kamis Kontribusi Kurikulum Cinta untuk Indonesia Emas 2045

 


Di saat syuruq (terbit) berganti maghrib (terbenam), sore Kamis lalu saya dan teman seperjuangan dipertemukan dalam majelis ilmu virtual. Sebuah anugerah kebaikan di tengah kesibukan.

Izin merangkum esensi kuliah hari kemarin, di mana kami diajak merenungkan betapa mendesaknya Kurikulum Cinta sebagai fondasi akhlak dan peradaban bangsa. Semoga nasihat dari Dosen kami menjadi bekal bagi amal dan pikiran kita.



Mendengar pemikiran Guru kami, Bapak Dr. Abdul Mukti, M.A., Sungguh sebuah panggilan jiwa yang bergetar. Beliau tidak hanya mengajarkan teori, tetapi menunjuk langsung pada Retakan Moral di zaman yang serba terbuka ini di mana anak pintar sekalipun dapat memiliki moralitas yang dipertanyakan, dan empati terasa semakin langka di tengah gempuran bully dan penghinaan di jagat maya.

Di tengah perbedaan etnis, agama, dan suku, kita dihadapkan pada Kenyataan Global yang menuntut toleransi sekaligus ketahanan batin. Ironisnya, di saat yang sama, kita menyaksikan cacat bangga dan penyimpangan sikap yang terus disiarkan.

Inilah mengapa visi Indonesia Emas 2045 terasa begitu berat sekaligus sakral. Kualitas SDM kita tidak cukup hanya diukur dari akademik, komunikasi, atau skill semata. Indikator utama yang harus kita bangun adalah Mental dan Spiritual. Logika hanya akan berjalan seiring dengan peradaban jika ia didasari oleh hati yang benar.

Maka, di sinilah posisi Kurikulum Cinta menemukan relevansinya sebagai sumbangan strategis:

Kurikulum Cinta, dalam konteks Magister Pendidikan Islam, bukanlah sekadar mata pelajaran baru tentang asmara, melainkan Revolusi Kesadaran dalam membangun Pembangunan Karakter. Ia adalah kerangka kerja untuk:

Menjembatani Logika dengan Peradaban: Kurikulum ini mengajarkan bahwa akal sehat harus dibimbing oleh adab dan kasih sayang (mahabbah). Logika tanpa cinta hanya akan melahirkan Homo Homini Lupus (manusia memangsa manusia lain).

Membangun Kembali Empati: Ia adalah jalan untuk menyembuhkan jiwa yang terfragmentasi, menumbuhkan sensitivitas terhadap luka orang lain, dan mengakui martabat (harga diri) setiap individu sebagai makhluk mulia (sebagaimana diajarkan dalam Islam).

Memperkuat Mental Spiritual: Di tengah guncangan global, Cinta dalam artian spiritual yang luas menjadi jangkar, menjadi tawakal yang mengikat jiwa agar tidak mudah tumbang oleh kegelisahan atau bully.

Kontribusi ini harus dimulai sejak dini, dan setiap lembaga pendidikan harus merasa terpanggil. Kurikulum Cinta adalah jembatan yang menghubungkan kearifan lokal dengan fakta global.

Tugas kita, sebagai peneliti, aktivis, dan pendidik, kini bukan lagi merumuskan konsep baru, melainkan merekonstruksi semua konsep mulia ini menjadi praktik nyata.

Mari kita jadikan Cinta sebagai pijakan filosofis untuk memastikan bahwa anak-anak Indonesia Emas 2045 tidak hanya cerdas di kepala, tetapi juga kaya di hati, agar peradaban kita benar-benar berdiri kokoh di atas pondasi moralitas yang tulus.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadtember

  aku merayu tubuhku  agar patuh segera pulang kepada doa - doa panjang  aku merayu tuhan untuk tetap mengelus tulang - belulangku hingga patah sampai kembali ke tanah.  doa tengah malam jangan menjauh meski bohong bolong ompong tak ada yang lebih sialan dari hiruk - pikuk dunia selain hilangnya doa - doa dan keyakinan yang kabur entah ke mana. tubuh tabah menengadah untuk teriakan paling sunyi  aku menjadi rimpuh dan mandi air tubuhku  soal segala rimpang yang tak rampung - rampung hening membuat malam semakin basah tumpah ruah riuh  oleh doa - doa yang sakit yang tak bisa lebih panjang dari isak sudah  telan sajalah !  dunia sudah sialan ingin mengumpat tetapi takut doa ditolak. Rasanya seperti ingin menyerah saja.

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

SEBUAH JEDA DARI WAKTU: Menghitung Amanah Usia dan Jejak Hikmah di Pertengahan Jalan

Di hari ini, di mana kalender mengulang kembali penanda lahirnya raga ini, hati seorang perasa seperti saya tidak hanya disergap kebahagiaan, melainkan oleh sebuah kontemplasi yang sunyi. Milad (ulang tahun) bukanlah sekadar perayaan ia adalah Piagam Audit Batin yang menuntut kita untuk berhenti sejenak, di tengah hiruk-pikuk hustle dan tuntutan akademis. Usia yang bertambah ini, dalam kacamata filosofis, bukanlah penambahan hak, melainkan penambahan Amanah. Amanah Waktu (Al-Waqt): Kita dihadapkan pada kenyataan pahit: waktu yang tersisa di dunia ini berkurang. Jika hidup adalah Safinatun Najah (Perahu Keselamatan), maka pertambahan usia adalah suara ombak yang mengingatkan kita untuk mengencangkan layar dan meluruskan niat. Setiap tahun yang berlalu adalah babak yang harus ditutup dengan husnul khatimah (penutup yang baik), bukan sekadar tumpukan kegagalan. Hikmah dalam Setiap Gagal dan Lelah: Perjalanan ini, sebagai perantau dan penuntut ilmu, telah mengajarkan saya bahwa hikmah seri...