Sajak Rahmatan Lil 'Alamin yang Melawan Batas-Batas Kaku
Sebagai seorang yang perasa, yang hatinya mudah tersentuh oleh puisi dan kerumitan ilmu, membaca 'Islam Kosmopolitan' karya Gus Dur bukan sekadar membaca buku. Ini seperti diajak berziarah ke kedalaman samudra kearifan.
Buku ini, bagi saya, adalah Manifesto Keberanian Intelektual seorang ulama yang merangkap sastrawan dan ilmuwan sosial.
Di tengah hiruk-pikuk umat Islam yang belakangan sering terjebak dalam simbolisme yang kaku dan ritualisme yang kering (mirip dengan hiruk-pikuk kasus guru viral yang kita bahas), Gus Dur datang dengan tawaran oase.
Beliau seperti ingin berbisik kepada kita:
"Islam itu sejatinya telah memiliki darah kosmopolitan sejak awal. Ia bukan hanya milik satu kaum, satu tempat, apalagi satu mazhab politik."
Kekuatan buku ini dan mengapa ia sangat menyentuh hati perantau seperti saya terletak pada tiga pilar yang sangat personal:
- Universalisme Melawan Partikularisme: Sebagai Magister PAI, saya tahu betul bahwa fiqh adalah upaya manusiawi memahami hukum Allah. Namun, Gus Dur mengajak kita menaikkan pandangan, melihat Islam dari kacamata nilai-nilai universal: kemanusiaan (al-insaniyyah), keadilan (al-'adalah), dan persaudaraan sesama (ukhuwah basyariyah). Gus Dur seolah meruntuhkan dinding-dinding yang dibangun oleh tafsir sempit, mengajak kita mencari ruh agama, bukan sekadar kulitnya.
- Harmoni Lokal dan Global (Pribumisasi): Di dalam Kosmopolitanisme Gus Dur, saya menemukan pengakuan tulus terhadap budaya dan tradisi lokal, yang ia sebut sebagai Nilai-Nilai Indonesia. Ini adalah pelukan hangat bagi keragaman. Beliau menegaskan bahwa Islam bisa menjadi global tanpa harus kehilangan akar lokalnya. Ini menghibur bagi saya sebagai perantau; Islam yang saya bawa tidak harus kaku dan asing, tapi bisa membumi dan merangkul.
- Filosofi Melawan Kekerasan: Bagian paling emosional bagi saya adalah penolakan Gus Dur terhadap kekerasan atas nama agama. Beliau mengajarkan bahwa agama seharusnya menjadi solusi, bukan sumber konflik. Ini terhubung erat dengan kepekaan saya. Ketika hati nurani menjerit melihat kekerasan (fisik maupun verbal) dalam pendidikan atau kehidupan sosial, buku ini memberikan dalil ilmiah dan syar'i bahwa itu bukanlah jalan Islam. Ia adalah suara minoritas yang menenangkan di tengah bisingnya mayoritas yang reaktif.
Pada akhirnya, "Islam Kosmopolitan" bukan sekadar teori. Ia adalah Puisi Etika yang dihidupkan oleh seorang tokoh. Ia menantang kita, sebagai generasi penerus, untuk menjadi Muslim yang mutafa'il (optimis), terbuka, dan memiliki Empati Kosmis yang tidak hanya berempati pada sesama Muslim, tetapi pada seluruh ciptaan-Nya, sesuai dengan spirit Rahmatan Lil 'Alamin.

Komentar
Posting Komentar