Langsung ke konten utama

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

Ketika Logika Tunduk pada Rindu dan Rasio Tumbang oleh Luka

 


Nafas lebih pendek dari cinta, dan cinta lebih purba dari nafas.

‎jadi cinta tidak berakhir bila nafas berhenti. Begitu kata Rocky Gerung 😁


Saya memandang jatuh cinta bukanlah sekadar reaksi kimiawi atau kebetulan emosional. Ia adalah fenomena metafisik yang menuntut kita untuk berhadapan langsung dengan keutuhan dan kerapuhan eksistensi kita.

Fase 1: Jatuh Cinta (Pencarian Diri dalam Diri yang Lain)

Ketika cinta menyapa, ia datang membawa Ilusi Kesempurnaan.

Secara filsafat, jatuh cinta adalah proyek pencarian makna (The Search for Meaning). Kita tidak benar-benar jatuh cinta pada orang lain seutuhnya, melainkan pada potensi ideal yang kita proyeksikan padanya. Kita melihat di mata orang yang kita cintai itu, sebuah "rumah" atau "separuh jiwa" yang selama ini hilang.

Plato mungkin akan menyebutnya sebagai kerinduan kita pada Bentuk Asal (Form) keindahan dan keutuhan yang pernah kita kenal.

Imam Al-Ghazali mungkin akan melihatnya sebagai majazi (cinta yang terbatas), sebuah jembatan yang, jika dikelola dengan adab dan kesadaran, seharusnya mengantarkan kita pada hakiki (Cinta Sejati yang tak terbatas).

Cinta membuat kita berani, utuh, dan merasa hidup. Ia adalah momentum langka di mana rasio (akal) bersedia tunduk kepada intuisi (hati).

Fase 2: Patah Hati (Konfrontasi dengan Realitas Fana)

Namun, layaknya musim yang berganti, cinta pun seringkali harus menghadapi kenyataan yang paling getir: kefanaan dan ketidakpastian.

Patah hati, bagi seorang perasa, adalah lebih dari sekadar kehilangan seseorang. Ia adalah kehancuran total atas Ilusi Kesempurnaan yang kita bangun. Ia memaksa kita untuk melihat dengan mata telanjang:

  Bahwa yang dicintai adalah makhluq (fana), bukan Ilahi (abadi).

 Bahwa harapan (ekspektasi) kita ternyata lebih besar daripada realitas yang ditawarkan hubungan tersebut.

Secara eksistensial, patah hati adalah pelajaran keras tentang kepemilikan. Kita tidak pernah benar-benar memiliki orang yang kita cintai, hanya dititipi rasa. Ketika titipan itu ditarik, muncullah al-huzn (kesedihan) yang mendalam.

Krisis pasca-Patah Hati:

Luka ini memaksa kita untuk memulai proyek filosofis baru: Rekonstruksi Diri.

Kita harus mengumpulkan serpihan-serpihan diri yang terpecah dan berani bertanya: "Siapakah saya tanpa 'dia'?" Proses ini menyakitkan, tetapi esensial bagi pertumbuhan jiwa.


Semoga hati yang terluka menemukan kembali kedamaian dan keutuhan maknanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadtember

  aku merayu tubuhku  agar patuh segera pulang kepada doa - doa panjang  aku merayu tuhan untuk tetap mengelus tulang - belulangku hingga patah sampai kembali ke tanah.  doa tengah malam jangan menjauh meski bohong bolong ompong tak ada yang lebih sialan dari hiruk - pikuk dunia selain hilangnya doa - doa dan keyakinan yang kabur entah ke mana. tubuh tabah menengadah untuk teriakan paling sunyi  aku menjadi rimpuh dan mandi air tubuhku  soal segala rimpang yang tak rampung - rampung hening membuat malam semakin basah tumpah ruah riuh  oleh doa - doa yang sakit yang tak bisa lebih panjang dari isak sudah  telan sajalah !  dunia sudah sialan ingin mengumpat tetapi takut doa ditolak. Rasanya seperti ingin menyerah saja.

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

SEBUAH JEDA DARI WAKTU: Menghitung Amanah Usia dan Jejak Hikmah di Pertengahan Jalan

Di hari ini, di mana kalender mengulang kembali penanda lahirnya raga ini, hati seorang perasa seperti saya tidak hanya disergap kebahagiaan, melainkan oleh sebuah kontemplasi yang sunyi. Milad (ulang tahun) bukanlah sekadar perayaan ia adalah Piagam Audit Batin yang menuntut kita untuk berhenti sejenak, di tengah hiruk-pikuk hustle dan tuntutan akademis. Usia yang bertambah ini, dalam kacamata filosofis, bukanlah penambahan hak, melainkan penambahan Amanah. Amanah Waktu (Al-Waqt): Kita dihadapkan pada kenyataan pahit: waktu yang tersisa di dunia ini berkurang. Jika hidup adalah Safinatun Najah (Perahu Keselamatan), maka pertambahan usia adalah suara ombak yang mengingatkan kita untuk mengencangkan layar dan meluruskan niat. Setiap tahun yang berlalu adalah babak yang harus ditutup dengan husnul khatimah (penutup yang baik), bukan sekadar tumpukan kegagalan. Hikmah dalam Setiap Gagal dan Lelah: Perjalanan ini, sebagai perantau dan penuntut ilmu, telah mengajarkan saya bahwa hikmah seri...