Langsung ke konten utama

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

Ketika Cermin Pesantren Retak di Jagat Maya






Sebagai pengajar yang lama berinteraksi dengan dunia pendidikan dan sedang mendalami keilmuan Islam.

Saya tidak bisa menampik bahwa hati ini merasakan duka yang dalam melihat institusi Pesantren yang selama berabad-abad menjadi benteng peradaban dan moral kini seolah dihakimi di ruang publik.

Belakangan ini, jagat maya begitu riuh. Kita melihat berita tentang kekerasan, pelecehan, hingga masalah internal yang membuat Pesantren seolah-olah menjadi luka terbuka yang disaksikan khalayak ramai.

Jika kita melihat dari kacamata ilmiah (sebagaimana kebiasaan saya membaca literatur), kita harus jujur dan netral. Fenomena ini bukanlah hitam dan putih, melainkan spektrum abu-abu yang rumit.

Di satu sisi:

Kita wajib mengakui bahwa sistem Pesantren dengan tradisi kepatuhan mutlak (ta'dzim) dan relasi kuasa yang kuat antara Kiai/Ustadz dan Santri terkadang menciptakan ruang sunyi yang rentan terhadap penyalahgunaan wewenang.


Kasus-kasus memilukan yang terjadi adalah Alarm Keras yang tak boleh diabaikan, sebuah pengkhianatan terhadap amanah tarbiyah (pendidikan) dan ta’lim (pengajaran) itu sendiri. Adalah kewajiban moral dan hukum untuk melindungi setiap jiwa yang dititipkan di sana.



Namun, di sisi lain:

Sebagai pihak yang menjunjung tinggi tabayyun (klarifikasi), kita harus sadar bahwa Pesantren bukanlah entitas tunggal.


Ada puluhan ribu pesantren di Indonesia. Mendistorsi citra ribuan lembaga hanya karena segelintir kasus viral adalah ketidakadilan naratif yang kejam. Kita menyaksikan adanya:

Framing Media: Kecenderungan media (dan algoritma media sosial) untuk memprioritaskan berita sensasional, membuat retakan kecil di sebuah pesantren seolah menjadi kehancuran total bagi seluruh institusi.



Kehilangan Konteks: Konsep disiplin, kesederhanaan, dan khalwat (pengasingan diri untuk belajar) yang merupakan roh pesantren, sering kali diterjemahkan secara salah oleh mata awam yang hanya melihat dari permukaan digital.



Penutup dan Harapan:

Fenomena ini adalah undangan untuk berhenti menghakimi dan mulai membenahi.

Bagi santri dan alumni, ini adalah momentum untuk menjadi Santri Kosmopolitan (seperti yang diajarkan Gus Dur)  membawa adab dan keilmuan Islam ke ruang publik, menjadi duta Rahmatan Lil 'Alamin yang kritis namun santun.

Bagi pengelola, ini adalah saatnya merancang Sistem Perlindungan Anak dan Mekanisme Pengawasan yang transparan. Agar keberkahan yang dicari di pesantren tidak ternodai oleh air mata dan trauma yang tersembunyi.

Pesantren harus menjadi oase keilmuan yang aman, bukan lagi panggung drama viral. Kita semua, baik yang di dalam maupun di luar pagar pesantren, punya kewajiban menjaga marwah ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadtember

  aku merayu tubuhku  agar patuh segera pulang kepada doa - doa panjang  aku merayu tuhan untuk tetap mengelus tulang - belulangku hingga patah sampai kembali ke tanah.  doa tengah malam jangan menjauh meski bohong bolong ompong tak ada yang lebih sialan dari hiruk - pikuk dunia selain hilangnya doa - doa dan keyakinan yang kabur entah ke mana. tubuh tabah menengadah untuk teriakan paling sunyi  aku menjadi rimpuh dan mandi air tubuhku  soal segala rimpang yang tak rampung - rampung hening membuat malam semakin basah tumpah ruah riuh  oleh doa - doa yang sakit yang tak bisa lebih panjang dari isak sudah  telan sajalah !  dunia sudah sialan ingin mengumpat tetapi takut doa ditolak. Rasanya seperti ingin menyerah saja.

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

Siapa Aku ?

Nama ku Wildan Salsabila Lubis . lahir 25 November tahunnya aku lupa . membaca dan menulis hal yang sudah kugemari dari kecil. Buku-buku sejarah dan ilmu pengetahuan di rumah sering kali aku menjumpainya,melihat sampulnya yang menarik,mencoba menarik diriku kedalam tulisan-tulisan sejarah,agama,dan filsafat . Blog ini kutulis juga keluh kesahku, aku menulis apa yang aku baca,apa yang dirasa, apa saja yang ingin aku tulis. Menurutku aku introvert, aku sangat lelah jika dikeramaian,makanya menghadiri pernikahan merupakan sesuatu yang jarang aku lakukan, bersosial secukupnya,berteman juga tidak terlalu banyak. Tidak menyukai keramaian,tapi benci kesepian .  . Bukannya aku anti sosial ya, lebih memilih dan menelaah setiap kepala orang baru yang aku jumpai . aku fresh graduate uin syarif hidayatullah jakarta.  itu saja lain kali aku menulis diriku lebih panjang .