Nasihat dari Ibu
Di tengah riuhnya kota perantauan ini, yang penuh dengan tumpukan buku, jurnal ilmiah, dan tuntutan Magister, ada dua waktu yang selalu menjadi jeda paling sakral dalam hari saya.
Yang pertama, tepat pukul 03.00 dini hari. Sebuah getaran lembut membangunkan saya, bukan dari alarm, melainkan dari telepon genggam yang berbisik. Di seberang sana, suara yang sarat kelembutan, suara Ibu: "Nak, bangunlah. Sudah sepertiga malam. Ambil wudhu. Jangan lupa sampaikan hajatmu dalam doa-doa tahajudmu."
Bagi Ibu, ibadah malam itu bukan sekadar kewajiban, melainkan ruang dialog batin yang paling intim, dan ia tak pernah ingin saya melewatkannya, seolah seluruh kekuatan spiritual saya sebagai perantau bergantung pada sajadah sunyi itu.
Yang kedua, pukul 21.00 malam. Panggilan penutup hari, suara yang tadinya lembut kini bercampur dengan ibaan dan kekhawatiran. Ibu selalu memastikan saya baik-baik saja, terutama hal-hal yang bagi saya sepele, namun bagi hatinya adalah perkara hidup-mati.
“Nak, sudah makan? Jangan lupa minum air putih. Dan ingat, jangan kehujanan.”
Ah, kekhawatiran akan hujan. Karena Ibu tahu, tubuh perantau ini mudah tumbang oleh tetesan air langit. Kekhawatiran itu bukan omelan, melainkan manifestasi paling murni dari cinta tanpa batas. Setiap kali saya sakit, nada bicaranya langsung penuh getaran cemas, seolah separuh sakit itu berpindah ke tubuhnya.
Nasihat-nasihat Ibu, yang diulang setiap hari selama rentang S1 hingga S2 ini, adalah puisi kehidupan yang paling jujur:
"Jaga Shalatmu, Nak. Itu pegangan mu." (Sebuah pengajaran tentang hubungan Hablu Minallah).
"Jaga badanmu baik-baik. Kalau kamu sakit, siapa yang merawatmu di sana?" (Sebuah pengajaran tentang Amanah terhadap raga).
"Ingat Kakakmu, Nak. Saling mendoakan. Kalian hanya berdua." (Sebuah pengajaran tentang Ukhuwah dan ikatan keluarga).
Dalam keheningan malam, ketika saya merenungkan nasihat-nasihat ini, saya menyadari satu hal filosofis: Ibu adalah Perwujudan Rahmatan Lil 'Alamin (kasih sayang bagi seluruh alam) yang paling nyata dalam hidup saya.
Cinta Ibu mengajarkan saya bahwa keilmuan tertinggi, sejatinya, adalah kemampuan untuk merawat, mengasihi, dan memelihara apa yang kita cintai, sekecil apapun itu—bahkan hanya sekadar menjauhi air hujan.
Semoga Allah senantiasa menjaga Ibu, sumber mata air yang tak pernah kering ini.


Komentar
Posting Komentar