Langsung ke konten utama

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau



Oleh: Wildan Salsabila Lubis

Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana.

Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat.

Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas.

Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska Riau. Kisah tentang Fara dan Rehan. Dua nama yang mendadak jadi konsumsi publik karena dinamika hubungan mereka yang bisa dibilang sangat toxic dan melewati banyak batas.

Membaca narasi yang beredar, intinya sebenarnya klasik namun miris, si perempuan (Fara) yang friendly padahal sudah memiliki pasangan, dan si laki-laki (Rehan) yang akhirnya terjebak dalam obsesi buta setelah merasa memberikan segalanya. Keduanya sama-sama melangkah terlalu jauh.

Melihat kasus ini, aku jadi merenung. Sifat obsesi ini sebenarnya bukanlah barang baru dalam sejarah peradaban manusia. Aku teringat pada kisah Qabil, putra Nabi Adam As. Sejarah mencatat bahwa tragedi pertama tumpahnya darah manusia di muka bumi berakar dari hal yang tak jauh berbeda yaitu obsesi, rasa kepemilikan yang absolut, ego, dan hawa nafsu yang membutakan akal sehat.

Ketika rasionalitas sudah ditundukkan oleh obsesi, manusia bisa berubah menjadi sosok yang kehilangan arah. Rehan, dengan segala effort nya yang kemudian berujung pada rasa dikhianati dan hilangnya kontrol diri, adalah potret nyata bagaimana manusia bisa hancur oleh ekspektasinya sendiri. Di sisi lain, sikap Fara yang membuka ruang manipulasi berlindung di balik kata friendly padahal mengeksploitasi afeksi adalah pemantik apinya.

Namun, ada satu hal lagi yang jujur saja cukup menggangguku respons netizen. Begitu kasus ini meledak, orang-orang dengan sangat cepat mengambil peran sebagai hakim agung. Jari-jari begitu lincah mengetik caci maki, menghujat, dan membedah aib keduanya tanpa ampun. Seolah-olah kita lupa pada hal penting dalam menerima kabar, menahan diri dan bersabar.

Kita hidup di era dimana kecepatan merespons lebih dihargai daripada kedalaman berpikir. Orang-orang begitu reaktif menanggapi aib sesamanya, menjadikannya tontonan dan bahan tertawaan, seakan-akan diri ini sudah suci dari dosa dan khilaf. Padahal, riuhnya kita menghakimi seringkali hanya cara kita untuk menutupi kelemahan kita sendiri.

Pada akhirnya, kasus Fara dan Rehan ini seharusnya jadi cermin buat kita semua. Ini adalah pengingat keras tentang betapa berbahayanya mempermainkan perasaan orang lain, serta peringatan bahwa mental seseorang bisa hancur ketika terus-menerus dimanipulasi. Dan yang tak kalah penting, ini teguran bagi kita sebagai audiens di media sosial, belajarlah untuk menahan jari dan tidak ikut campur terlalu jauh pada kehidupan orang lain. Tidak semua keriuhan di internet butuh komentar dan validasi kita.


Kadang yang lebih mengerikan dari pelaku itu netizen yg merasa jadi hakim moral. Orang dibacok itu fakta. Moral korban itu opini.

Kejahatan tidak pernah butuh korban yg sempurna buat disebut salah. Salah ya salah, titik. Kalo empati saja masih pake syarat, mungkin yang perlu diperiksa bukan korban, tapi nurani kita.

Mari lebih bijak merespons keadaan, dan mari lebih mengedepankan empati serta akal sehat.



Komentar

  1. Dan Terkadang Jugak Rasa Berharap Yang Berlebihan Untuk Satu Objek Itu Bisa Membuat Malapetaka Di Akhir Ceritanya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadtember

  aku merayu tubuhku  agar patuh segera pulang kepada doa - doa panjang  aku merayu tuhan untuk tetap mengelus tulang - belulangku hingga patah sampai kembali ke tanah.  doa tengah malam jangan menjauh meski bohong bolong ompong tak ada yang lebih sialan dari hiruk - pikuk dunia selain hilangnya doa - doa dan keyakinan yang kabur entah ke mana. tubuh tabah menengadah untuk teriakan paling sunyi  aku menjadi rimpuh dan mandi air tubuhku  soal segala rimpang yang tak rampung - rampung hening membuat malam semakin basah tumpah ruah riuh  oleh doa - doa yang sakit yang tak bisa lebih panjang dari isak sudah  telan sajalah !  dunia sudah sialan ingin mengumpat tetapi takut doa ditolak. Rasanya seperti ingin menyerah saja.

Siapa Aku ?

Nama ku Wildan Salsabila Lubis . lahir 25 November tahunnya aku lupa . membaca dan menulis hal yang sudah kugemari dari kecil. Buku-buku sejarah dan ilmu pengetahuan di rumah sering kali aku menjumpainya,melihat sampulnya yang menarik,mencoba menarik diriku kedalam tulisan-tulisan sejarah,agama,dan filsafat . Blog ini kutulis juga keluh kesahku, aku menulis apa yang aku baca,apa yang dirasa, apa saja yang ingin aku tulis. Menurutku aku introvert, aku sangat lelah jika dikeramaian,makanya menghadiri pernikahan merupakan sesuatu yang jarang aku lakukan, bersosial secukupnya,berteman juga tidak terlalu banyak. Tidak menyukai keramaian,tapi benci kesepian .  . Bukannya aku anti sosial ya, lebih memilih dan menelaah setiap kepala orang baru yang aku jumpai . aku fresh graduate uin syarif hidayatullah jakarta.  itu saja lain kali aku menulis diriku lebih panjang .

SEBUAH JEDA DARI WAKTU: Menghitung Amanah Usia dan Jejak Hikmah di Pertengahan Jalan

Di hari ini, di mana kalender mengulang kembali penanda lahirnya raga ini, hati seorang perasa seperti saya tidak hanya disergap kebahagiaan, melainkan oleh sebuah kontemplasi yang sunyi. Milad (ulang tahun) bukanlah sekadar perayaan ia adalah Piagam Audit Batin yang menuntut kita untuk berhenti sejenak, di tengah hiruk-pikuk hustle dan tuntutan akademis. Usia yang bertambah ini, dalam kacamata filosofis, bukanlah penambahan hak, melainkan penambahan Amanah. Amanah Waktu (Al-Waqt): Kita dihadapkan pada kenyataan pahit: waktu yang tersisa di dunia ini berkurang. Jika hidup adalah Safinatun Najah (Perahu Keselamatan), maka pertambahan usia adalah suara ombak yang mengingatkan kita untuk mengencangkan layar dan meluruskan niat. Setiap tahun yang berlalu adalah babak yang harus ditutup dengan husnul khatimah (penutup yang baik), bukan sekadar tumpukan kegagalan. Hikmah dalam Setiap Gagal dan Lelah: Perjalanan ini, sebagai perantau dan penuntut ilmu, telah mengajarkan saya bahwa hikmah seri...