Oleh:
Wildan Salsabila Lubis
Pagi-pagi
buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan
aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar
dimana-mana.
Aku
berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq
namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu
berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan,
sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir
diwaktu yang tepat.
Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini. Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas.
Belakangan
ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang
hangat dari UIN Suska Riau. Kisah tentang Fara dan Rehan. Dua nama yang
mendadak jadi konsumsi publik karena dinamika hubungan mereka yang bisa
dibilang sangat toxic dan melewati banyak batas.
Membaca
narasi yang beredar, intinya sebenarnya klasik namun miris, si perempuan (Fara)
yang friendly padahal sudah memiliki
pasangan, dan si laki-laki (Rehan) yang akhirnya terjebak dalam obsesi buta
setelah merasa memberikan segalanya. Keduanya sama-sama melangkah terlalu
jauh.
Melihat
kasus ini, aku jadi merenung. Sifat obsesi ini sebenarnya bukanlah barang baru
dalam sejarah peradaban manusia. Aku teringat pada kisah Qabil, putra Nabi Adam
As. Sejarah mencatat bahwa tragedi pertama tumpahnya darah manusia di muka bumi
berakar dari hal yang tak jauh berbeda yaitu obsesi, rasa kepemilikan yang
absolut, ego, dan hawa nafsu yang membutakan akal sehat.
Ketika
rasionalitas sudah ditundukkan oleh obsesi, manusia bisa berubah menjadi sosok
yang kehilangan arah. Rehan, dengan segala effort nya yang kemudian berujung
pada rasa dikhianati dan hilangnya kontrol diri, adalah potret nyata bagaimana
manusia bisa hancur oleh ekspektasinya sendiri. Di sisi lain, sikap Fara yang
membuka ruang manipulasi berlindung di balik kata friendly padahal
mengeksploitasi afeksi adalah pemantik apinya.
Namun,
ada satu hal lagi yang jujur saja cukup menggangguku respons netizen. Begitu
kasus ini meledak, orang-orang dengan sangat cepat mengambil peran sebagai
hakim agung. Jari-jari begitu lincah mengetik caci maki, menghujat, dan
membedah aib keduanya tanpa ampun. Seolah-olah kita lupa pada hal penting dalam
menerima kabar, menahan diri dan bersabar.
Kita
hidup di era dimana kecepatan merespons lebih dihargai daripada kedalaman
berpikir. Orang-orang begitu reaktif menanggapi aib sesamanya, menjadikannya
tontonan dan bahan tertawaan, seakan-akan diri ini sudah suci dari dosa dan
khilaf. Padahal, riuhnya kita menghakimi seringkali hanya cara kita untuk
menutupi kelemahan kita sendiri.
Pada
akhirnya, kasus Fara dan Rehan ini seharusnya jadi cermin buat kita semua. Ini
adalah pengingat keras tentang betapa berbahayanya mempermainkan perasaan orang
lain, serta peringatan bahwa mental seseorang bisa hancur ketika terus-menerus
dimanipulasi. Dan yang tak kalah penting, ini teguran bagi kita sebagai audiens
di media sosial, belajarlah untuk menahan jari dan tidak ikut campur terlalu
jauh pada kehidupan orang lain. Tidak semua keriuhan di internet butuh komentar
dan validasi kita.
Kadang yang lebih mengerikan dari pelaku itu netizen yg merasa jadi hakim moral. Orang dibacok itu fakta. Moral korban itu opini.
Kejahatan tidak pernah butuh korban yg sempurna buat disebut salah. Salah ya salah, titik. Kalo empati saja masih pake syarat, mungkin yang perlu diperiksa bukan korban, tapi nurani kita.
Mari
lebih bijak merespons keadaan, dan mari lebih mengedepankan empati serta akal
sehat.

Dan Terkadang Jugak Rasa Berharap Yang Berlebihan Untuk Satu Objek Itu Bisa Membuat Malapetaka Di Akhir Ceritanya.
BalasHapus