Langsung ke konten utama

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

SAMUDRA YANG BICARA: Menggugat Mitos Columbus dan Jejak Moor di Benua yang Terlupakan

 


Kita diajarkan bahwa Christopher Columbus adalah sang penemu. Padahal, fakta sejarah dan temuan ilmiah (yang mestinya menjadi hujjah kita sebagai kaum terpelajar) menunjukkan hal yang berbeda: Columbus, hanya sampai di Karibia, dan perjalanannya pun difasilitasi oleh peta dan ilmu navigasi yang sebagian besar diwarisi dari peradaban yang baru saja ia hancurkan di Andalusia.

Tragedi Penemuan yang Tersembunyi:

Kebenaran yang sunyi berbisik: Jejak kaki pertama di benua itu telah lebih dahulu diukir oleh para pelaut Moor (Muslim dari Maroko dan Spanyol) dan suku Beybers (Afrika Barat). Jauh sebelum 1492, mereka sudah melintasi Samudra Atlantik.

Mengapa narasi ini penting bagi kita?

Gugatan Terhadap Monopoli Sejarah:

Klaim Columbus sebagai 'penemu' adalah monopoli narasi Barat yang bertujuan menghapus kontribusi peradaban lain, terutama Islam. Penemuan oleh Moor dan Beybers membuktikan bahwa keterbukaan, ilmu astronomi, dan navigasi sudah menjadi kekuatan umat Islam yang diilhami konsep rihlah (perjalanan) dalam mencari ilmu jauh sebelum Eropa berani menyeberangi Atlantik.

Perbedaan Niat (Akar Filosofis):

Di sinilah filsafat dan moralitas berperan. Jejak Muslim Moor seringkali membawa misi perdagangan, ilmu, dan dawah (seruan) damai. Mereka berasimilasi dan meninggalkan nama-nama yang berakar Arab pada suku-suku asli. Sementara, pelayaran yang disponsori Columbus, disusul oleh penjajah Eropa, membawa misi eksploitasi, penguasaan, dan penghancuran (seperti yang terjadi pada suku-suku asli).

Ini adalah kontras fundamental: Ilmu yang bertujuan memakmurkan vs. Ilmu yang bertujuan menguasai.

Penutup dan Refleksi Intelektual:

Sebagai penuntut ilmu di era post-truth ini, tugas kita adalah menjadi benteng kebenaran, menggali kembali sejarah yang tersembunyi, dan mengoreksi narasi yang terdzalimi. Marilah kita junjung semangat ilmiah dan spiritual para pelaut Muslim itu: berani mengarungi samudra yang gelap (ketidakpastian) demi mencari ilmu dan menyebar keberkahan, bukan demi menguasai dunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadtember

  aku merayu tubuhku  agar patuh segera pulang kepada doa - doa panjang  aku merayu tuhan untuk tetap mengelus tulang - belulangku hingga patah sampai kembali ke tanah.  doa tengah malam jangan menjauh meski bohong bolong ompong tak ada yang lebih sialan dari hiruk - pikuk dunia selain hilangnya doa - doa dan keyakinan yang kabur entah ke mana. tubuh tabah menengadah untuk teriakan paling sunyi  aku menjadi rimpuh dan mandi air tubuhku  soal segala rimpang yang tak rampung - rampung hening membuat malam semakin basah tumpah ruah riuh  oleh doa - doa yang sakit yang tak bisa lebih panjang dari isak sudah  telan sajalah !  dunia sudah sialan ingin mengumpat tetapi takut doa ditolak. Rasanya seperti ingin menyerah saja.

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

Siapa Aku ?

Nama ku Wildan Salsabila Lubis . lahir 25 November tahunnya aku lupa . membaca dan menulis hal yang sudah kugemari dari kecil. Buku-buku sejarah dan ilmu pengetahuan di rumah sering kali aku menjumpainya,melihat sampulnya yang menarik,mencoba menarik diriku kedalam tulisan-tulisan sejarah,agama,dan filsafat . Blog ini kutulis juga keluh kesahku, aku menulis apa yang aku baca,apa yang dirasa, apa saja yang ingin aku tulis. Menurutku aku introvert, aku sangat lelah jika dikeramaian,makanya menghadiri pernikahan merupakan sesuatu yang jarang aku lakukan, bersosial secukupnya,berteman juga tidak terlalu banyak. Tidak menyukai keramaian,tapi benci kesepian .  . Bukannya aku anti sosial ya, lebih memilih dan menelaah setiap kepala orang baru yang aku jumpai . aku fresh graduate uin syarif hidayatullah jakarta.  itu saja lain kali aku menulis diriku lebih panjang .