Langsung ke konten utama

SEBUAH JEDA DARI WAKTU: Menghitung Amanah Usia dan Jejak Hikmah di Pertengahan Jalan

Di hari ini, di mana kalender mengulang kembali penanda lahirnya raga ini, hati seorang perasa seperti saya tidak hanya disergap kebahagiaan, melainkan oleh sebuah kontemplasi yang sunyi. Milad (ulang tahun) bukanlah sekadar perayaan ia adalah Piagam Audit Batin yang menuntut kita untuk berhenti sejenak, di tengah hiruk-pikuk hustle dan tuntutan akademis. Usia yang bertambah ini, dalam kacamata filosofis, bukanlah penambahan hak, melainkan penambahan Amanah. Amanah Waktu (Al-Waqt): Kita dihadapkan pada kenyataan pahit: waktu yang tersisa di dunia ini berkurang. Jika hidup adalah Safinatun Najah (Perahu Keselamatan), maka pertambahan usia adalah suara ombak yang mengingatkan kita untuk mengencangkan layar dan meluruskan niat. Setiap tahun yang berlalu adalah babak yang harus ditutup dengan husnul khatimah (penutup yang baik), bukan sekadar tumpukan kegagalan. Hikmah dalam Setiap Gagal dan Lelah: Perjalanan ini, sebagai perantau dan penuntut ilmu, telah mengajarkan saya bahwa hikmah seri...

SUARA AYAH DI BALIK DIAM

 


Jika kasih Ibu adalah nyanyian Tahajud yang membangunkan kita di sepertiga malam, maka kasih Ayah adalah pilar sunyi yang menopang seluruh atap rumah kita. Di Hari Ayah ini, saya kembali disergap oleh rasa rindu yang melankolis rindu pada kehangatan yang seringkali terbungkus dalam diam yang tebal.

Bagi saya, Ayah bukan hanya figur, ia adalah filsafat hidup yang berjalan.

1. Pelajaran Ikhtiar dalam Keheningan:

Dulu, kita sering berpikir Ayah hanya sibuk dengan pekerjaan. Kini, kita menyadari, Ayah sibuk melawan cemas di dunia yang tak pernah ia tunjukkan pada kita. Ia tidak menelpon untuk mengingatkan shalat sesering Ibu, tetapi setiap keringatnya, setiap keputusan sulitnya, adalah shalat ikhtiar yang tak terucapkan.

Ayah mengajarkan kita tentang Tawakal yang sejati: bukan hanya berserah setelah berdoa, tetapi bekerja keras hingga peluh menjadi doa, tanpa perlu pengakuan. Ia adalah Qana'ah (rasa cukup) yang hidup, rela mengurangi jatahnya sendiri demi memastikan segala kebutuhan anak terpenuhi.

2. Punggung yang Tak Pernah Patah:

Ayah seringkali adalah sosok yang menyimpan luka dan kelelahannya sendirian. Jika Ibu mengekspresikan khawatir pada hujan yang bisa membuat kita demam, Ayah menyimpan cemas yang jauh lebih besar: cemas akan badai kehidupan di masa depan yang harus kita hadapi.

Punggungnya, yang tampak kokoh, sebenarnya adalah Peta Beban yang menanggung harapan, mimpi, dan ketakutan seluruh keluarga. Dan ia melakukannya dengan keheningan luar biasa, tanpa meminta pujian, tanpa meminta tepukan.

3. Warisan Sejati Seorang Ayah:

Saya menyadari, warisan terbaik Ayah bukanlah harta, melainkan karakter. Ia mewariskan adab, etika berjuang, dan kemampuan untuk diam di tengah masalah, agar orang yang kita cintai tidak ikut merasakan guncangan kita.

Di hari ini, untuk Ayah yang mungkin tidak banyak bicara, tapi yang seluruh hidupnya adalah kalimat terindah terima kasih telah menjadi kompas moral yang menunjuk pada jalan kebenaran dan tanggung jawab.

Semoga Allah membalas setiap helaan napas dan setiap beban sunyi yang pernah Ayah pikul. Ya Allah, muliakanlah Ayah kami.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadtember

  aku merayu tubuhku  agar patuh segera pulang kepada doa - doa panjang  aku merayu tuhan untuk tetap mengelus tulang - belulangku hingga patah sampai kembali ke tanah.  doa tengah malam jangan menjauh meski bohong bolong ompong tak ada yang lebih sialan dari hiruk - pikuk dunia selain hilangnya doa - doa dan keyakinan yang kabur entah ke mana. tubuh tabah menengadah untuk teriakan paling sunyi  aku menjadi rimpuh dan mandi air tubuhku  soal segala rimpang yang tak rampung - rampung hening membuat malam semakin basah tumpah ruah riuh  oleh doa - doa yang sakit yang tak bisa lebih panjang dari isak sudah  telan sajalah !  dunia sudah sialan ingin mengumpat tetapi takut doa ditolak. Rasanya seperti ingin menyerah saja.

Siapa Aku ?

Nama ku Wildan Salsabila Lubis . lahir 25 November tahunnya aku lupa . membaca dan menulis hal yang sudah kugemari dari kecil. Buku-buku sejarah dan ilmu pengetahuan di rumah sering kali aku menjumpainya,melihat sampulnya yang menarik,mencoba menarik diriku kedalam tulisan-tulisan sejarah,agama,dan filsafat . Blog ini kutulis juga keluh kesahku, aku menulis apa yang aku baca,apa yang dirasa, apa saja yang ingin aku tulis. Menurutku aku introvert, aku sangat lelah jika dikeramaian,makanya menghadiri pernikahan merupakan sesuatu yang jarang aku lakukan, bersosial secukupnya,berteman juga tidak terlalu banyak. Tidak menyukai keramaian,tapi benci kesepian .  . Bukannya aku anti sosial ya, lebih memilih dan menelaah setiap kepala orang baru yang aku jumpai . aku fresh graduate uin syarif hidayatullah jakarta.  itu saja lain kali aku menulis diriku lebih panjang .

Penyair bukan Penyiar

  Kata-kata lembut melunakkan hati yang lebih keras dari batu, kata-kata kasar mengeraskan hati yang lebih lembut dari sutra." – imam Al Ghazali Aku senang menulis baik itu dicatatan android, motivasi,puisi,nasehat, yang memang aku berikan untuk diriku sendiri. Tidak ada salahnya kalo catatan itu aku tuangkan diblog pribadi . ada kepuasan tersendiri jika tulisan ku mampu menusuk ke semua hati dan kepala yang membacanya . kata imam ghazali dalam tulisannya “jika kamu bukan anak raja dan anak ulama, maka menulislah “ Menulis bisa dimana saja, kapan kamu mau , dan apa yang saja yang kamu tulis.   Sedikit catatan dari keresahan dari aku kali ini. Penyair   bukan Penyiar . Penyiar kurang   percaya sama suara sendiri, bukan ga pd sih, itu hanya alasan ku saja. Penyair juga bukan, apa ya ? syaratnya jadi penyair , sulit bukan berarti tidak mungkin, siapapun bisa jadi apapun . Penting atau tidak.   menjadi tidak penting jika didasari oleh kesadaran bahwa menulis...