Jika kasih Ibu adalah nyanyian Tahajud yang membangunkan kita di sepertiga malam, maka kasih Ayah adalah pilar sunyi yang menopang seluruh atap rumah kita. Di Hari Ayah ini, saya kembali disergap oleh rasa rindu yang melankolis rindu pada kehangatan yang seringkali terbungkus dalam diam yang tebal.
Bagi saya, Ayah bukan hanya figur, ia adalah filsafat hidup yang berjalan.
1. Pelajaran Ikhtiar dalam Keheningan:
Dulu, kita sering berpikir Ayah hanya sibuk dengan pekerjaan. Kini, kita menyadari, Ayah sibuk melawan cemas di dunia yang tak pernah ia tunjukkan pada kita. Ia tidak menelpon untuk mengingatkan shalat sesering Ibu, tetapi setiap keringatnya, setiap keputusan sulitnya, adalah shalat ikhtiar yang tak terucapkan.
Ayah mengajarkan kita tentang Tawakal yang sejati: bukan hanya berserah setelah berdoa, tetapi bekerja keras hingga peluh menjadi doa, tanpa perlu pengakuan. Ia adalah Qana'ah (rasa cukup) yang hidup, rela mengurangi jatahnya sendiri demi memastikan segala kebutuhan anak terpenuhi.
2. Punggung yang Tak Pernah Patah:
Ayah seringkali adalah sosok yang menyimpan luka dan kelelahannya sendirian. Jika Ibu mengekspresikan khawatir pada hujan yang bisa membuat kita demam, Ayah menyimpan cemas yang jauh lebih besar: cemas akan badai kehidupan di masa depan yang harus kita hadapi.
Punggungnya, yang tampak kokoh, sebenarnya adalah Peta Beban yang menanggung harapan, mimpi, dan ketakutan seluruh keluarga. Dan ia melakukannya dengan keheningan luar biasa, tanpa meminta pujian, tanpa meminta tepukan.
3. Warisan Sejati Seorang Ayah:
Saya menyadari, warisan terbaik Ayah bukanlah harta, melainkan karakter. Ia mewariskan adab, etika berjuang, dan kemampuan untuk diam di tengah masalah, agar orang yang kita cintai tidak ikut merasakan guncangan kita.
Di hari ini, untuk Ayah yang mungkin tidak banyak bicara, tapi yang seluruh hidupnya adalah kalimat terindah terima kasih telah menjadi kompas moral yang menunjuk pada jalan kebenaran dan tanggung jawab.
Semoga Allah membalas setiap helaan napas dan setiap beban sunyi yang pernah Ayah pikul. Ya Allah, muliakanlah Ayah kami.

Komentar
Posting Komentar