Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini. Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...
24 juli 1981 indonesia kehilangan seorang pahlawan besar,tokoh karismatik yang dikenal sebagai Ulama,Pujangga,dan Negarawan. Di sumatera barat telah banyak melahirkan budayawan,pemikir sastrawan dan ulama, di salah satu sudut minangkabau telah lahir seorang tokoh yang menjalani peran tersebut. Ia bukan hanya memainkan peran sebagai ulama tapi juga sebagai pahlawan dengan sejumblah jasa, tepatnya 17 februari 1908, dunia mengenalnya dengan panggilan Buya Hamka. Buya adalah panggilan bagi orang minangkabau, yang berasal dari kata Abi dalam bahasa arab,sementara Hamka merupakan singkatan dari nama panjangnya Haji Abdul Malik Karim Amrulloh. Bagi Indonesia Buya Hamka bukanlah ulama biasa,tak kurang dari 130 judul buku yang ia tulis telah menginspirasi jutaan jiwa. Goresan pena buya hamka bukan hanya mempengaruhi perkembangan islam tapi juga memberi imbas bagi kondisi politik Indonesia. Harapan tinggi sang ayah membuat abdul malik menjadi anak yang manja,hingga kenakala...