Langsung ke konten utama

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

Manusia Dalam Kemelut Sejarah. - 1. Soekarno

 

 

Manusia Dalam Kemelut Sejarah





Soekarno : Mitos dan Realitas

 

Ayahnya seorang guru. Kondisi keluarganya sedikit lebih baik dari pada golongan marhaen yang nanti nasibnya diperjuangkan soekarno. Pendidikan soekarno menempatkannya dalam kalangan atas masyarakat Indonesia : ELS (Sekolah Menengah Belanda ), tamat tahun 1921.

Tahun 1927, Ketika soekarno memulai karir politik sesungguhnya, tidak lebih dari 78 orang Indonesia yang mempunyai ijazah HBS. Ini berarti satu diantara 7 juta manusia Indonesia memiliki ijazah tersebut.

Lebih sedikit lagi orang yang tamatan universitas seperti Ir. Soekarno. Tanpa memperhatikan ras,agama, asal suku dan bangsa, orang-orang Indonesia yang berpendidikan tinggi merupakan suatu elite sendiri.

 Mereka saling mengenal, berhubungan erat, merasa setingkat dan agak sinis satu sama lain, namun berstau karena adanya suatu jurang dalam yang memisahkan mereka dari rakyat yang buta huruf dan dicengkram keterbelakangan. Neopriyayisme mudah timbul di antara mereka.

Selama masa Pendidikannya, soekarno berdiam di rumah tjokrominoto, pemimpin sarekat islam yang karismatik. Dengan mudah soekarno yang cerdas diperkenalkan kepada kalangan nasionalis, anggota jong java, anggota SI. Sejak 1911 sokarno telah menerbitkan tulisan-tulisan pertamanya dalam penerbitan-penerbitan nasionalis.

Oetoesan Hindia, disana tulisannya : “hancurkan segera kapitalisme yang dibantu oleh budaknya imperialisme. Dengan kekuatan islam insya Allah segera dilaksanakan.”

Dalam suatu pertemuan jong java, bagian dari budi utomo, soekarno mengagetkan semua hadirin dengan penolakannya untuk mempergunakan bahasa jawa kromo. Sebab sebagai penganut jawa Dwipa (Gerakan untuk menghapuskan pemakaian tingkatan-tingkatan dalam bahasa jawa) yang lahir di Surabaya, dia menolak dan memakai bahasa jawa ngoko (rendahan).

Dengan jelas soekarno ingin menghilangkan kedudukan elitisnya atau menghapuskan elitism. Populisme soekarno terlihat juga pada tulisannya pada tahun1921, Ketika perkumpulan jong java, jong ambon, jong sumatera, dll, mereka merencanakan persatuan. Ini anggapnya tak berguna, soekarno menulis untuk apa mengejar cita-cita yang muluk-muluk,”para intelektual harus memikirkan nasib rakyat.”

Sikap terakhir ini  memang sangat berlainan dengan sikap-sikapnya di kemudian hari untuk menggalang persatuan.

Yang menarik dari soekarno di sini adalah tiga unsur pokok-pokok pemikirannya, yakni anti elitisme, anti imperialism-kolonialisme. Dan bagi soekarno ketiga-tiganya identic dengan nasib rakyat. Pemikiran dasar ini akan tetap menjadi tema soekarno.

 

 

Komentar