Langsung ke konten utama

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

Kopi

 





Kopi

hidup itu seperti kopi. yang menyukai akan merasa nikmat, yang tidak menyukai akan mengatakan pahit. tapi kopi tidak  perlu berpura-pura manis.

 

Filosofi kopi tak henti-hentinya dibahas. Para sufisme dahulu sangat menyukai kopi, erat pendekatannya dengan manusia dan tuhan .

Manusia yang mecintai dirinya sendiri lebih merasa cukup , mencoba menurunkan kecewa pada orang lain, tanpa mengurangi rasa simpatinya dalam bersosialis . bukan berarti menjauhi manusia tujuan dari mencintai diri sendiri .

Hidup yang terus berlanjut, sering orang katakan “people come and go “.

Hari ini merasa dekat,suatu waktu menjauh. Hari ini merasa berarti,suatu hari menjadi asing .

Filsuf Stoa Marcus Aureli mengatakan “manusia itu fana”, orang yang menyadari kehidupan adalah fana  lebih mengartikan kehidupan itu sendiri,tanpa berlarut-larut kepergian manuisa itu dikemudian hari .

Punya teman yang dulu dekat sedekat nadi, sekarang jauh sejauh mata memandang . menurutku pergantian antara seseorang ke orang lainnya akan terus berlanjut, seolah  perputarannya yang geometris.

Kamu  berlabuh ke kota A misalnya, kamu menjumpai teman baru, menjalin silaturahmi yang erat, tidak dipungkiri hubungan ini dikemudian hari bisa menjadi asing karena kepentingan dunia masing-masing . entah bagaimana , keadaan seperti inilah yang aku rasakan sampai hari ini .

Berteman tapi ya sekedar kenal,menjalin hubungan erat ya tidak terlalu erat.  begitulah adanya, proses dan alur kehidupan yang sedang berlangsung, jangan terlalu bergantung pada orang lain. Bukan berarti anti sosial ya, lebih ke sikap diri yang menyadari jika manusia punya problematika dan kesibukan dunia nya masing-masing .

Balikl lagi ke kopi, dia akan menjadi manis Ketika kamu menyukai dan benar-benar kamu nikmati. Kamu paham akan dirimu sendiri, menjadi aware ke diri sendiri, berdamai dan memaafkan diri sendiri .

Menyendiri .

Dunia yang 24 jam dalam sehari semalam, informasi yang kamu terima , bermacam pola disatukan dalam satu kepala . tidak ada salahnya menepi, mengasingkan diri , berbicara dengan diri sendiri, apa yang dibutuhkan, masalah apa kamu anggap masalah apa benar itu masalah, beban pikiran yang segala macam bentuk bisa kamu diskusikan dengan dirimu sendiri dikala sendiri .

Sepi sunyi dan menepi . tujuannya bukan menyalahkan diri ya, atau overthinking yang berlebihan .

Menyadari dan mengontrol diri apa saja yang tekah dilewati dan tujuan apa yang akan digapai.

Dalam suatu kisah Ketika maulana (tuanku) sapaan orang terdekat buat jalaludin rumi , beliau difitnah dan di asingkan, bahkan dianggap tidak waras, karena beberapa kali dia bersyair dan menari dikota yang dia tempati .

Mengasingkan diri dari khalayak manusia, berdamai dan memaafkan dirinya , menulis syair-syair kerinduan dalam kehidupannya. Ketenangan bathiniyah memang harus dibangun saat ini .

Dulu orang khawatir soal ekonomi, hari ini tak hanya itu saja, isu kesehatan mental menjadi persoalan yang masih dianggap sebelah mata namun berdampak jangka panjang .

Orang beragama mengatakan kurang dekat dengan tuhan, orang literatur mengatakan kurang ilmu, orang kaya mengatakan sadar diri , orang miskin mengatakan kurang bersyukur .

Dalam Ilmu tasawuf menawarkan teori keseimbangan antara nilai-nilai agama dan nilai-nilai peradaban modern dan pengaruh sufisme masih  persoalan ini.

Kekuatan spiritual terimplementasikan dalam beribadah yang ikhlas, ketaatan yang tawaddhu’ dan wara’, bertawakal, sabar atas musibah, mampu mendatangkan kesehatan mental paripurna. Fenomena tersebut, dibutuhkannya kemampuan untuk menghadapi kesulitan dan persoalan hidup sehingga tidak berlari ke arah yang negatif seperti bunuh diri sebagai wujud keputusasaan.

menyadarakan apa yang terjadi, mendamaikan pikiran, sulit bukan berarti ga mungkin .

 

Kemarin aku pintar, aku ingin mengubah dunia. Sekarang aku bijak, maka dari itu aku mengubah diriku sendiri – Rumi

 

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadtember

  aku merayu tubuhku  agar patuh segera pulang kepada doa - doa panjang  aku merayu tuhan untuk tetap mengelus tulang - belulangku hingga patah sampai kembali ke tanah.  doa tengah malam jangan menjauh meski bohong bolong ompong tak ada yang lebih sialan dari hiruk - pikuk dunia selain hilangnya doa - doa dan keyakinan yang kabur entah ke mana. tubuh tabah menengadah untuk teriakan paling sunyi  aku menjadi rimpuh dan mandi air tubuhku  soal segala rimpang yang tak rampung - rampung hening membuat malam semakin basah tumpah ruah riuh  oleh doa - doa yang sakit yang tak bisa lebih panjang dari isak sudah  telan sajalah !  dunia sudah sialan ingin mengumpat tetapi takut doa ditolak. Rasanya seperti ingin menyerah saja.

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

Siapa Aku ?

Nama ku Wildan Salsabila Lubis . lahir 25 November tahunnya aku lupa . membaca dan menulis hal yang sudah kugemari dari kecil. Buku-buku sejarah dan ilmu pengetahuan di rumah sering kali aku menjumpainya,melihat sampulnya yang menarik,mencoba menarik diriku kedalam tulisan-tulisan sejarah,agama,dan filsafat . Blog ini kutulis juga keluh kesahku, aku menulis apa yang aku baca,apa yang dirasa, apa saja yang ingin aku tulis. Menurutku aku introvert, aku sangat lelah jika dikeramaian,makanya menghadiri pernikahan merupakan sesuatu yang jarang aku lakukan, bersosial secukupnya,berteman juga tidak terlalu banyak. Tidak menyukai keramaian,tapi benci kesepian .  . Bukannya aku anti sosial ya, lebih memilih dan menelaah setiap kepala orang baru yang aku jumpai . aku fresh graduate uin syarif hidayatullah jakarta.  itu saja lain kali aku menulis diriku lebih panjang .