Langsung ke konten utama

SEBUAH JEDA DARI WAKTU: Menghitung Amanah Usia dan Jejak Hikmah di Pertengahan Jalan

Di hari ini, di mana kalender mengulang kembali penanda lahirnya raga ini, hati seorang perasa seperti saya tidak hanya disergap kebahagiaan, melainkan oleh sebuah kontemplasi yang sunyi. Milad (ulang tahun) bukanlah sekadar perayaan ia adalah Piagam Audit Batin yang menuntut kita untuk berhenti sejenak, di tengah hiruk-pikuk hustle dan tuntutan akademis. Usia yang bertambah ini, dalam kacamata filosofis, bukanlah penambahan hak, melainkan penambahan Amanah. Amanah Waktu (Al-Waqt): Kita dihadapkan pada kenyataan pahit: waktu yang tersisa di dunia ini berkurang. Jika hidup adalah Safinatun Najah (Perahu Keselamatan), maka pertambahan usia adalah suara ombak yang mengingatkan kita untuk mengencangkan layar dan meluruskan niat. Setiap tahun yang berlalu adalah babak yang harus ditutup dengan husnul khatimah (penutup yang baik), bukan sekadar tumpukan kegagalan. Hikmah dalam Setiap Gagal dan Lelah: Perjalanan ini, sebagai perantau dan penuntut ilmu, telah mengajarkan saya bahwa hikmah seri...

Sejarah Filsafat on going

 

Filsafat sejarah dari ajid thohir dan Ahmad Sahidin.

 

 

Filsafat sejarah sering kali dipahami sebagai sesuatu yang rumit atau abstrak, karena bukan lagi bicara sejarah sebagai narasi atau deskripsi, tetapi lebih mengarah pada dimensi nalar argumentasi tentang dunia kesejarahan. Namun pada intinya akan selalu membicarakan tentang tiga hal yang tidak bisa dipisahkan , yakni pergulatan, dinamika antara manusia dalam ruang dan waktunya.

Ketiganya (manusia, ruang , dan waktu) merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam kajian pemikiran filsafat sejarah maupun ilmu sejarah.

Ruang bisa dipahami sebagai tempat atau lokasi dari sebuah peristiwa maupun cerita sejarah, ia memiliki peran yang sangat kuat dalam membentuk, menimbulkan dan memicu aktivitas manusia. Waktu adalah saat, situasi dan kronologi yang menegaskan kapan dinamika terjadinya atau saat peristiwa sejarahnya terjadi. Adapun tempat relatif akan mengalami kesamaan , meskipun oleh perubahan waktu tempatnya juga sering kali mengalami beberapa perubahan bentuk dan sebagainya.

Manusia dalam sejarah.

Manusia selalu dilihat sebagai makhluk multidimensi : satu sisi sebagai makhluk individual dan di sisi lain sebagai makhluk sosial, dan dalam dimensi yang sama ia juga sebagai makhluk biologis dan makhluk spritual . seluruh potensi yang kompleks ini , secara tidak langsung sangat memungkinkan terjadinya gerak sejarah yang dinamis, baik secara pribadi dalam konteks psiologis, maupun dengan kepentingan orang lain dalam konteks sebagai makhluk sosial serta dengan tuhan dlam konteksnya sebagai makhluk spritual.

Apabila dikaji secara sistematis, maka akan tampak struktur-struktur yang menaunginya, dan itulah sejarah sebagai sebuah sistem .

Sebenarnya identitas struktural ini selalu digarisbawahi oleh  sejarawan besar. Mereka menunjukkan bahwa manusia mempunyai sejarah karena manusia mempunyai kodrat dan karakter.

Itulah pendirian para sejarawan Renains, seperti marchiavelli, dam banyak didukung oleh para sejarawan modern hari ini.

Apa yang disebut dengan “kesadaran historis” adalah hasil dari peradaban manusia modern yang gagasan awalnya telah dikembangkan pada abad ke-14 Masehi oleh Ibn Khaldun dalam kitab al-muqaddimah dari magnum opus karya berjudul Tarikh al-ibar wa diwan al-mubtada wa al-khabar dengan pendekatan filsafat sejarah yang relatif baru, yakni mencari aspek-aspek terdalam dari setiap fenomena sejarah manusia. Sebelum tampil para tokoh sejarawan yunani, kesadaran itu belum muncul. Bahkan para pemikir yunani belum mampu mengajuka analisis filsafat yang bercorak khas pemikiran historis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadtember

  aku merayu tubuhku  agar patuh segera pulang kepada doa - doa panjang  aku merayu tuhan untuk tetap mengelus tulang - belulangku hingga patah sampai kembali ke tanah.  doa tengah malam jangan menjauh meski bohong bolong ompong tak ada yang lebih sialan dari hiruk - pikuk dunia selain hilangnya doa - doa dan keyakinan yang kabur entah ke mana. tubuh tabah menengadah untuk teriakan paling sunyi  aku menjadi rimpuh dan mandi air tubuhku  soal segala rimpang yang tak rampung - rampung hening membuat malam semakin basah tumpah ruah riuh  oleh doa - doa yang sakit yang tak bisa lebih panjang dari isak sudah  telan sajalah !  dunia sudah sialan ingin mengumpat tetapi takut doa ditolak. Rasanya seperti ingin menyerah saja.

Siapa Aku ?

Nama ku Wildan Salsabila Lubis . lahir 25 November tahunnya aku lupa . membaca dan menulis hal yang sudah kugemari dari kecil. Buku-buku sejarah dan ilmu pengetahuan di rumah sering kali aku menjumpainya,melihat sampulnya yang menarik,mencoba menarik diriku kedalam tulisan-tulisan sejarah,agama,dan filsafat . Blog ini kutulis juga keluh kesahku, aku menulis apa yang aku baca,apa yang dirasa, apa saja yang ingin aku tulis. Menurutku aku introvert, aku sangat lelah jika dikeramaian,makanya menghadiri pernikahan merupakan sesuatu yang jarang aku lakukan, bersosial secukupnya,berteman juga tidak terlalu banyak. Tidak menyukai keramaian,tapi benci kesepian .  . Bukannya aku anti sosial ya, lebih memilih dan menelaah setiap kepala orang baru yang aku jumpai . aku fresh graduate uin syarif hidayatullah jakarta.  itu saja lain kali aku menulis diriku lebih panjang .

SEBUAH JEDA DARI WAKTU: Menghitung Amanah Usia dan Jejak Hikmah di Pertengahan Jalan

Di hari ini, di mana kalender mengulang kembali penanda lahirnya raga ini, hati seorang perasa seperti saya tidak hanya disergap kebahagiaan, melainkan oleh sebuah kontemplasi yang sunyi. Milad (ulang tahun) bukanlah sekadar perayaan ia adalah Piagam Audit Batin yang menuntut kita untuk berhenti sejenak, di tengah hiruk-pikuk hustle dan tuntutan akademis. Usia yang bertambah ini, dalam kacamata filosofis, bukanlah penambahan hak, melainkan penambahan Amanah. Amanah Waktu (Al-Waqt): Kita dihadapkan pada kenyataan pahit: waktu yang tersisa di dunia ini berkurang. Jika hidup adalah Safinatun Najah (Perahu Keselamatan), maka pertambahan usia adalah suara ombak yang mengingatkan kita untuk mengencangkan layar dan meluruskan niat. Setiap tahun yang berlalu adalah babak yang harus ditutup dengan husnul khatimah (penutup yang baik), bukan sekadar tumpukan kegagalan. Hikmah dalam Setiap Gagal dan Lelah: Perjalanan ini, sebagai perantau dan penuntut ilmu, telah mengajarkan saya bahwa hikmah seri...