Langsung ke konten utama

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

Surga yang terasa

 


Seorang ibu tidak pernah memintamu untuk meletakkan dunia ditangannya, namun tutur kata yang halus, perangai yang santun, perilaku yang bertanggung jawab dari seorang anak adalah kebahagiaan seorang ibu.

Doa ibu ku lebih luas dari pada langit, dimanapun aku berada , aku berteduh dibawahnya.

Sedari awal jauh dari ibu, sangat merindu

Hari yang lelah, malam yang panjang, ingat wajahmu saja ibu aku merasakan ketenangan.

Hari kian berganti, pagar depan rumah mulai lapuk, al-quran diatas lemari mulai usang.

Diam-diam kulihat wajahmu , ada sedikit sesak, tatapanku, aku diam kemudian menangis

Sudah tua ya ibu, sudah sering sakit kepala, nafsu makan juga makin berkurang.

Kalo ditanya kabar ketika kita jauh ibu pasti jawabnya sehat.

Ibu pasti pura-pura kuat kan, ibu pura-pura tersenyum kan.  aduh… aku menangis .

Ibu aku tumbuh dewasa, aku kuat dan aku pasti bisa melalui semuanya.

Ibu aku rindu , ibu tidak mungkin membaca tulisan ku ini, dan ibu juga tidak tau kan aku sering menangis akhir-akhir ini .

Tapi tuhan pasti tau isi hatiku, doa-doa panjang setiap waktu untuk ibu.

Ibu, dunia makin kejam, kadang aku kuat, kadang aku rapuh.

Ibu, kenapa orang-orang sering menyakitiku. Menurutku, aku sering berbuat baik, lisanku selalu dijaga, sikapku sudah ku anggap cukup dewasa, tapi kenapa ya ibu, manusia selalu menjahatiku, heum ibu aku menangis lagi .

Ibu, maaf ya aku cengeng sekarang, aku tidak selalu mengeluh kok ibu, tapi tetap saja , aku mudah rapuh.

Surgaku , ibuku, pelukku dalam doa, udara malam ini membawa rindu-rindu yang kubisikkan, menutup mata mengingat senyummu . tidak tau kenapa, hatiku sejak saja melakukannya.

Semua rasa yang ada di dada sedang bergemuruh, bergejolak, mencoba untuk memilih kata untuk menceritakan rasa , tapi rasanya kata terlalu miskin untuk mewakili rasa.

 

Tak pernah kuharap ibu cepat tua dan renta
Tak pernah ku ingin ibu lelah dalam usia Selalu kuharapkan ibu terus bersamaku


Dengan cinta berikan petuahmu Mataku. Batu yang jatuh ke lubuk mabuk
Dipeluk dingin
hening merayap tebing

Menadah senyap dasar
dari situ aku ingin bergemuruh
berkabar
mengaliri jejak yang tertinggal

Mataku. kembar sepasang
direnggut arus tangis
dimabuk peluk hayal
memecah diam rindu mendalam.

Bu, mataku boleh jauh dasar hayal , tapi wajah ketika ibu senyum
jadi penyejuk hatiku
penawar luka agar tak dalam

-Wildan salsabila lubis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadtember

  aku merayu tubuhku  agar patuh segera pulang kepada doa - doa panjang  aku merayu tuhan untuk tetap mengelus tulang - belulangku hingga patah sampai kembali ke tanah.  doa tengah malam jangan menjauh meski bohong bolong ompong tak ada yang lebih sialan dari hiruk - pikuk dunia selain hilangnya doa - doa dan keyakinan yang kabur entah ke mana. tubuh tabah menengadah untuk teriakan paling sunyi  aku menjadi rimpuh dan mandi air tubuhku  soal segala rimpang yang tak rampung - rampung hening membuat malam semakin basah tumpah ruah riuh  oleh doa - doa yang sakit yang tak bisa lebih panjang dari isak sudah  telan sajalah !  dunia sudah sialan ingin mengumpat tetapi takut doa ditolak. Rasanya seperti ingin menyerah saja.

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

SEBUAH JEDA DARI WAKTU: Menghitung Amanah Usia dan Jejak Hikmah di Pertengahan Jalan

Di hari ini, di mana kalender mengulang kembali penanda lahirnya raga ini, hati seorang perasa seperti saya tidak hanya disergap kebahagiaan, melainkan oleh sebuah kontemplasi yang sunyi. Milad (ulang tahun) bukanlah sekadar perayaan ia adalah Piagam Audit Batin yang menuntut kita untuk berhenti sejenak, di tengah hiruk-pikuk hustle dan tuntutan akademis. Usia yang bertambah ini, dalam kacamata filosofis, bukanlah penambahan hak, melainkan penambahan Amanah. Amanah Waktu (Al-Waqt): Kita dihadapkan pada kenyataan pahit: waktu yang tersisa di dunia ini berkurang. Jika hidup adalah Safinatun Najah (Perahu Keselamatan), maka pertambahan usia adalah suara ombak yang mengingatkan kita untuk mengencangkan layar dan meluruskan niat. Setiap tahun yang berlalu adalah babak yang harus ditutup dengan husnul khatimah (penutup yang baik), bukan sekadar tumpukan kegagalan. Hikmah dalam Setiap Gagal dan Lelah: Perjalanan ini, sebagai perantau dan penuntut ilmu, telah mengajarkan saya bahwa hikmah seri...