Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Berawal dari "Friendly", Berakhir Jadi Psikopat: Catatan Gelap dari Kasus UIN Suska Riau

Oleh: Wildan Salsabila Lubis Pagi-pagi buta hatiku tergerak untuk menulis kasus mahasiswa di UIN Suska Riau, kebetulan aku lagi di Riau. Sedari awal kasus ini hadir di publik, video kejadian beredar dimana-mana. Aku berusaha untuk menahan diri, teringat dulu pesan dari dosen kami, beliau dosen mantiq namanya ustad hidayatullah. Setiap mengakhiri sesi di kelas beliau selalu berpesan, sebagai akademisi atau peneliti, tahan-tahan dirimu untuk mengambil kesimpulan, sabar-sabarkan hatimu membaca fakta, karena pada akhirnya kebenaran selalu hadir diwaktu yang tepat. Aku rasa ini waktunya yang tepat untuk mengambil kesimpulan, kendatipun nanti menunggu keterangan dari dua pasangan ini.  Menelaah psikologi rehan yang jatuh cinta, anak yang introvert dapat afeksi, sebelumnya belum pernah dapat sensasi itu dari perempuan, ujungnya penolakan berubah jadi yandere, hilangnya rasionalitas. Belakangan ini, lini masa media sosialku cukup ramai dengan sebuah kasus yang sedang hangat dari UIN Suska ...

SEBUAH JEDA DARI WAKTU: Menghitung Amanah Usia dan Jejak Hikmah di Pertengahan Jalan

Di hari ini, di mana kalender mengulang kembali penanda lahirnya raga ini, hati seorang perasa seperti saya tidak hanya disergap kebahagiaan, melainkan oleh sebuah kontemplasi yang sunyi. Milad (ulang tahun) bukanlah sekadar perayaan ia adalah Piagam Audit Batin yang menuntut kita untuk berhenti sejenak, di tengah hiruk-pikuk hustle dan tuntutan akademis. Usia yang bertambah ini, dalam kacamata filosofis, bukanlah penambahan hak, melainkan penambahan Amanah. Amanah Waktu (Al-Waqt): Kita dihadapkan pada kenyataan pahit: waktu yang tersisa di dunia ini berkurang. Jika hidup adalah Safinatun Najah (Perahu Keselamatan), maka pertambahan usia adalah suara ombak yang mengingatkan kita untuk mengencangkan layar dan meluruskan niat. Setiap tahun yang berlalu adalah babak yang harus ditutup dengan husnul khatimah (penutup yang baik), bukan sekadar tumpukan kegagalan. Hikmah dalam Setiap Gagal dan Lelah: Perjalanan ini, sebagai perantau dan penuntut ilmu, telah mengajarkan saya bahwa hikmah seri...

SUARA AYAH DI BALIK DIAM

  Jika kasih Ibu adalah nyanyian Tahajud yang membangunkan kita di sepertiga malam, maka kasih Ayah adalah pilar sunyi yang menopang seluruh atap rumah kita. Di Hari Ayah ini, saya kembali disergap oleh rasa rindu yang melankolis rindu pada kehangatan yang seringkali terbungkus dalam diam yang tebal. Bagi saya, Ayah bukan hanya figur, ia adalah filsafat hidup yang berjalan. 1. Pelajaran Ikhtiar dalam Keheningan: Dulu, kita sering berpikir Ayah hanya sibuk dengan pekerjaan. Kini, kita menyadari, Ayah sibuk melawan cemas di dunia yang tak pernah ia tunjukkan pada kita. Ia tidak menelpon untuk mengingatkan shalat sesering Ibu, tetapi setiap keringatnya, setiap keputusan sulitnya, adalah shalat ikhtiar yang tak terucapkan. Ayah mengajarkan kita tentang Tawakal yang sejati: bukan hanya berserah setelah berdoa, tetapi bekerja keras hingga peluh menjadi doa, tanpa perlu pengakuan. Ia adalah Qana'ah (rasa cukup) yang hidup, rela mengurangi jatahnya sendiri demi memastikan segala kebutuhan ...

SAMUDRA YANG BICARA: Menggugat Mitos Columbus dan Jejak Moor di Benua yang Terlupakan

  Kita diajarkan bahwa Christopher Columbus adalah sang penemu. Padahal, fakta sejarah dan temuan ilmiah (yang mestinya menjadi hujjah kita sebagai kaum terpelajar) menunjukkan hal yang berbeda: Columbus, hanya sampai di Karibia, dan perjalanannya pun difasilitasi oleh peta dan ilmu navigasi yang sebagian besar diwarisi dari peradaban yang baru saja ia hancurkan di Andalusia. Tragedi Penemuan yang Tersembunyi: Kebenaran yang sunyi berbisik: Jejak kaki pertama di benua itu telah lebih dahulu diukir oleh para pelaut Moor (Muslim dari Maroko dan Spanyol) dan suku Beybers (Afrika Barat). Jauh sebelum 1492, mereka sudah melintasi Samudra Atlantik. Mengapa narasi ini penting bagi kita? Gugatan Terhadap Monopoli Sejarah: Klaim Columbus sebagai 'penemu' adalah monopoli narasi Barat yang bertujuan menghapus kontribusi peradaban lain, terutama Islam. Penemuan oleh Moor dan Beybers membuktikan bahwa keterbukaan, ilmu astronomi, dan navigasi sudah menjadi kekuatan umat Islam yang diilhami ...

Kontemplasi Filosofis atas Kitab Safinatun Najah

  Saya seringkali merindukan kesederhanaan mendalam dari kitab-kitab dasar. Di antara semua literatur, Safinatun Najah (Perahu Keselamatan) yang tipis itu, justru menyimpan bobot makna yang seolah tak terhingga. Ia bukan hanya manual fiqih Mazhab Syafi'i, ia adalah Piagam Ta'abbud (peribadatan) yang mengikat jiwa. Kitab ini, yang disusun oleh ulama besar dari Yaman, Syekh Salim bin Sumair al-Hadhrami, adalah janji puitis: ia adalah perahu yang akan menyelamatkan kita dari gelombang ghurur (tipu daya dunia) dan al-jahl (kebodohan dalam beribadah). Ia adalah tempat berlabuh yang tenang bagi hati yang gelisah di tengah quarter life crisis modern. Mengurai Filosofi Rukun sebagai Perjalanan Batin: Taharah (Bersuci): Fondasi Kesadaran Diri Fasal-fasal Safinah diawali dengan Taharah syarat air, wudhu, dan mandi wajib. Ini bukan sekadar aturan kebersihan fisik. Ini adalah Pelatihan Eksistensial yang pertama. Kitab ini mengajarkan bahwa sebelum kita berdialog dengan Tuhan (shalat), kita...

Narasi Personal: Rekonstruksi Ilmiah Sumpah Pemuda

Lusa lalu saya sempat berbincang dengan salah satu  mantan rektor perempuan pertama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis M.A. terkait kondisi Islam, dakwah global, dan juga membahas hari-hari bersejarah dalam bulan ini, salah satunya yaitu sumpah pemuda. Hasil dari pembicaraan itu , saya menyadari satu hal fundamental, Sumpah Pemuda (1928) adalah hipotesis sosial yang kini menuntut verifikasi ilmiah di era digital. Ikrar satu nusa, satu bangsa, satu bahasa adalah landasan, tetapi implementasinya butuh transformasi nilai yang terstruktur. Di tengah dominasi Gen Z, tantangan kita bukan lagi melawan penjajah fisik, melainkan melawan Disrupsi Identitas dan Ancaman Disintegrasi Digital. Fenomena cancel culture, bully massal, dan hoax adalah wujud nyata dari kegagalan literasi etika di ruang publik. Tiga Butir Sumpah dalam Konteks Analisis Digital: Satu Tanah Air (Tanah Air Spiritual): Secara filosofis, kita harus mendefinisikan tanah air tidak hanya...

Semua sudah tertulis Menawarlah Lewat Do'a

  Dalam setiap helaan napas perjuangan di perantauan, seringkali kita diuji dengan satu musuh batin yang paling berbahaya: Keputusasaan (al-ya's). Di sinilah, kisah klasik tentang Nabi Musa AS dan seorang hamba Allah yang mendamba keturunan, mengajarkan kita sebuah epos keimanan yang tak lekang oleh waktu. Dikisahkan, hamba Allah (sering disebut sebagai seorang nenek atau wanita tua) ini tak pernah lelah memohon anak. Bertahun-tahun, puluhan tahun, ia mengetuk pintu langit dengan doa yang sama. Hingga akhirnya, ia meminta Musa seorang Kalimullah (yang berbicara langsung dengan Allah) untuk menanyakan: "Kapankah Allah akan mengabulkan permohonanku?" Nabi Musa pun bertanya kepada-Nya. Dan jawaban Tuhan, yang disampaikan kembali kepada hamba itu, sungguh menusuk: "Aku telah menuliskan takdir bahwa ia tidak akan memiliki anak." Seorang yang perasa akan membayangkan betapa remuknya hati hamba itu mendengar vonis takdir yang seolah final. Namun, di sinilah keajaiban i...

HUJAN, OVERTHINKING, DAN PLOT TWIST USIA 20-AN

Ketika Hati Butuh Healing, Bukan Hustle Ujian dan deadline periode ahkir tahun ini nggak cuma musim hujan. Ini adalah Musim Insecurity Nasional. Apalagi kalau lagi hujan, bawaannya langsung flashback ke masa kecil. Cemasnya Ibu soal kehujanan kini berevolusi menjadi Kecemasan berlebihan (Adult Anxiety). Rasanya seperti: kalau kena hujan fisik bisa demam, kalau kena hujan ekspektasi di medsos bisa langsung mental breakdown. Fenomena Quarter Life Crisis (QLC) yang hits banget di usia 20 an ini, bagi saya, adalah Krisis Filter. Ini Bukan Cuma Soal Nggak Punya Duit😂 Dosen filsafat akan bilang: ini adalah momen ketika Ilusi Timeline Sempurna yang kita lihat di Instagram (sudah S2, sudah nikah, sudah keliling Eropa) tiba-tiba pecah dan nggak relate sama timeline kita yang masih penuh tanda tanya. Mari Bedah QLC dari Sudut Pandang Cinta dan Meaning: THE FOMO IS REAL, BUT THE JOMO IS BETTER: QLC ini dipicu oleh Fear of Missing Out. Kita takut tertinggal. Padahal, wisdom yang saya dapat dari k...

Perkuliahan Kamis Kontribusi Kurikulum Cinta untuk Indonesia Emas 2045

  Di saat syuruq (terbit) berganti maghrib (terbenam), sore Kamis lalu saya dan teman seperjuangan dipertemukan dalam majelis ilmu virtual. Sebuah anugerah kebaikan di tengah kesibukan. Izin merangkum esensi kuliah hari kemarin, di mana kami diajak merenungkan betapa mendesaknya Kurikulum Cinta sebagai fondasi akhlak dan peradaban bangsa. Semoga nasihat dari Dosen kami menjadi bekal bagi amal dan pikiran kita. Mendengar pemikiran Guru kami, Bapak Dr. Abdul Mukti, M.A., Sungguh sebuah panggilan jiwa yang bergetar. Beliau tidak hanya mengajarkan teori, tetapi menunjuk langsung pada Retakan Moral di zaman yang serba terbuka ini di mana anak pintar sekalipun dapat memiliki moralitas yang dipertanyakan, dan empati terasa semakin langka di tengah gempuran bully dan penghinaan di jagat maya. Di tengah perbedaan etnis, agama, dan suku, kita dihadapkan pada Kenyataan Global yang menuntut toleransi sekaligus ketahanan batin. Ironisnya, di saat yang sama, kita menyaksikan cacat bangga dan pen...

Merangkai Doa Subuh dan Kekhawatiran Hujan dari Suara Ibu

 

Ketika Logika Tunduk pada Rindu dan Rasio Tumbang oleh Luka

  Nafas lebih pendek dari cinta, dan cinta lebih purba dari nafas. ‎jadi cinta tidak berakhir bila nafas berhenti. Begitu kata Rocky Gerung 😁 Saya memandang jatuh cinta bukanlah sekadar reaksi kimiawi atau kebetulan emosional. Ia adalah fenomena metafisik yang menuntut kita untuk berhadapan langsung dengan keutuhan dan kerapuhan eksistensi kita. Fase 1: Jatuh Cinta (Pencarian Diri dalam Diri yang Lain) Ketika cinta menyapa, ia datang membawa Ilusi Kesempurnaan. Secara filsafat, jatuh cinta adalah proyek pencarian makna (The Search for Meaning). Kita tidak benar-benar jatuh cinta pada orang lain seutuhnya, melainkan pada potensi ideal yang kita proyeksikan padanya. Kita melihat di mata orang yang kita cintai itu, sebuah "rumah" atau "separuh jiwa" yang selama ini hilang. Plato mungkin akan menyebutnya sebagai kerinduan kita pada Bentuk Asal (Form) keindahan dan keutuhan yang pernah kita kenal. Imam Al-Ghazali mungkin akan melihatnya sebagai majazi (cinta yang terbat...

SUARA JIWA DI TENGAH RIUH KEGELISAHAN

  Mengurai Benang Kusut Kesehatan Mental dari Sudut Pandang Batin dan Filsafat Saya seringkali merenungkan betapa rapuhnya dinding antara "baik-baik saja" dan "tidak baik-baik saja" dalam diri manusia. Dunia modern, dengan segala kecepatan dan tuntutannya, seringkali memaksa kita untuk mengenakan topeng. Kita dituntut untuk selalu "kuat," "sukses," dan "bahagia" sebuah tirani positivisme yang melenakan. Padahal, di balik senyum paling cerah, tak jarang ada jiwa yang menjerit dalam sunyi, terperangkap dalam labirin kegelisahan, kecemasan, atau depresi. Inilah yang kita sebut sebagai kesehatan mental. Dari kacamata filsafat, terutama yang terinspirasi oleh tradisi Islam dan pemikiran Timur, saya melihat bahwa fenomena ini bukanlah sekadar gangguan klinis, melainkan krisis eksistensial yang mendalam.  * Fragmentasi Diri (Jiwa yang Terpecah):    Filosof-filosof kuno, seperti Plato atau Al-Ghazali, sering berbicara tentang keutuhan jiwa. Nam...

Ketika Cermin Pesantren Retak di Jagat Maya

Sebagai pengajar yang lama berinteraksi dengan dunia pendidikan dan sedang mendalami keilmuan Islam. Saya tidak bisa menampik bahwa hati ini merasakan duka yang dalam melihat institusi Pesantren yang selama berabad-abad menjadi benteng peradaban dan moral kini seolah dihakimi di ruang publik. Belakangan ini, jagat maya begitu riuh. Kita melihat berita tentang kekerasan, pelecehan, hingga masalah internal yang membuat Pesantren seolah-olah menjadi luka terbuka yang disaksikan khalayak ramai. Jika kita melihat dari kacamata ilmiah (sebagaimana kebiasaan saya membaca literatur), kita harus jujur dan netral. Fenomena ini bukanlah hitam dan putih, melainkan spektrum abu-abu yang rumit. Di satu sisi: Kita wajib mengakui bahwa sistem Pesantren dengan tradisi kepatuhan mutlak (ta'dzim) dan relasi kuasa yang kuat antara Kiai/Ustadz dan Santri terkadang menciptakan ruang sunyi yang rentan terhadap penyalahgunaan wewenang. Kasus-kasus memilukan yang terjadi adalah Alarm Keras yang tak boleh d...

Wawancara Batin dengan 'Islam Kosmopolitan' Gus Dur

  ​ Sajak Rahmatan Lil 'Alamin yang Melawan Batas-Batas Kaku ​ ​Sebagai seorang yang perasa, yang hatinya mudah tersentuh oleh puisi dan kerumitan ilmu, membaca 'Islam Kosmopolitan' karya Gus Dur bukan sekadar membaca buku. Ini seperti diajak berziarah ke kedalaman samudra kearifan. ​Buku ini, bagi saya, adalah Manifesto Keberanian Intelektual seorang ulama yang merangkap sastrawan dan ilmuwan sosial. ​Di tengah hiruk-pikuk umat Islam yang belakangan sering terjebak dalam simbolisme yang kaku dan ritualisme yang kering (mirip dengan hiruk-pikuk kasus guru viral yang kita bahas), Gus Dur datang dengan tawaran oase. ​Beliau seperti ingin berbisik kepada kita: ​ "Islam itu sejatinya telah memiliki darah kosmopolitan sejak awal. Ia bukan hanya milik satu kaum, satu tempat, apalagi satu mazhab politik." ​ Kekuatan buku ini dan mengapa ia sangat menyentuh hati perantau seperti saya terletak pada tiga pilar yang sangat personal: ​ Universalisme Melawan P...

SEBUAH REFLEKSI PADA SABTU PAGI

Ketika Rintik Air Mata Guru Jatuh di Ranah Digital Sebagai seorang perantau, seorang pendidik dengan enam tahun pengalaman, dan kini tengah mendalami Magister Pendidikan Islam, hati saya sungguh teriris melihat fenomena guru yang terus menjadi "santapan" viral di media sosial. Kita melihatnya satu per satu: guru yang dilaporkan karena menegakkan disiplin, guru yang terjerat kasus pelecehan, hingga keputusan mengeluarkan siswa yang membuat gaduh. Semua ini, dengan kecepatan kilat, berpindah dari ruang kelas yang hening ke ruang digital yang riuh. Bagi saya, ini bukan sekadar berita, tapi sebuah Tragedi Keteladanan. Tindakan-tindakan kontroversial itu hanyalah puncak dari Gunung Es masalah yang jauh lebih dalam, yang dingin, dan sunyi. Sebagai seorang yang perasa dan terbiasa merenung, saya melihat: Kelelahan Batin Pendidik: Sebagian besar guru berjuang di bawah tekanan sistem, beban administrasi, dan ekspektasi masyarakat yang selangit. Ketika empati dan kesabaran terkikis hab...